Makalah
REKREASI ALAM DAN
EKOWISATA
“ Peran Perguruan
Tinggi Dalam Pengembangan Ekowisata “
OLEH :
ASRIADI. AR
D1B5 10 128

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Indonesia sebagai negara megabiodiversity nomor dua di
dunia, telah dikenal memiliki kekayaan alam flora dan fauna yang sangat tinggi.
Para explorer dari dunia barat maupun timur jauh telah mengunjungi indonesia
pada abad ke lima belas yang lalu.
Perjalanan eksplorasi yang ingin mengetahui keadaan telah
dilakukan oleh marcopollo, Washington, Wallacea, Weber, Junghuhn dan Van
Steines dan masih banyak yang lain merupakan perjalanan antar pulau dan antar
benua yang penuh dengan tantangan. Para adventner ini melakukan perjalanan ke
alam yang merupakan awal dari perjalanan ekowisata (ecotourism). Ekowisata adalah kegiatanperjalanan
wisata yang dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan,
sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan
warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk local serta
upaya-upaya konservasi,sumberdaya alam dan lingkungan.
Pemakaian istilah ekowisata lebih populer dibanding dengan
terjemahan yang seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme, yang pada
tahun 1990 oleh the ecotourism society didefinisikan sebagai bentuk perjalanan
wisata bertanggung jawab ke area alami dan berpetualang, yang dilakukan untuk
tujuan konservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan untuk kesejahteraan
penduduk setempat. Definisi dan pengertian ecotourism di atas, sekedar
memberikan pemahaman bahwa dinamika ekowisata sebagai bidang ilmu telah
diminati oleh banyak kalangan khususnya scholars.
Secara
umum pengembangan ekowisata harus dapat meningkatkan kualitas hubungan antar
manusia, meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat dan menjaga kualitas
lingkungan. Oleh karena itu untuk mewujudkan hal tersebut maka pengembangan
ekowisata membutuhkan kerjasama para pihak yang berkepentingan atau
stakeholders, yaitu pemerintah, swasta, LSM, penduduk
lokal, perguruan tinggi, dan organisasi
internasional. Dalam makalah ini lebih khusus membahas peran perguruan tinggi
dalam pengembangan ekowisata.
B.
Rumusan Masalah
Masalah
yang diangkat dalam penulisan makalah ini yaitu:
1. Apa
yang dimaksud dengan ekowisata?
2. Apa
saja unsur-unsur yang harus ada dalam pengembangan ekowisata?
3. Bagaimana
peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekowisata?
C.
Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk
mengetahui pengertian ekowisata
2. Untuk
mengetahui unsur-unsur yang harus ada dalam pengembangan ekowisata
3. Untuk
mengetahui peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekowisata
II.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ekowisata
Dalam sebuah buku yang berjudul ”Ecotourism”,
Iwan Nugroho menjelaskan bahwa ekowisata adalah kegiatan perjalanan wisata yang
dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu
sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan
penduduk local serta upaya-upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan.
Telah
banyak hasil studi dan definisi para ahli memberikan pengertian tentang
ecotourism, namun menurut Fandeli, (2000), pemakaian istilah ekowisata lebih
populer dibanding dengan terjemahan yang seharusnya dari istilah ecotourism,
yaitu ekoturisme, yang pada tahun 1990 oleh the ecotourism society
didefinisikan sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggung jawab ke area alami
dan berpetualang, yang dilakukan untuk tujuan konservasi lingkungan dan
melestarikan kehidupan untuk kesejahteraan penduduk setempat. Keragaman sudut
pandang para ahli menyangkut definisi dan pengertian ekoturisme cukup dinamis
dan positif sepanjang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan disiplin
ilmu ekoturisme itu sendiri. Walaupun dari segi keilmuan belum final,
setidaknya Avenzora, (2003) telah merangkum berbagai definisi ecotourism yang
ada dalam satu terminologi tiga pola yaitu: (1) berorientasi pada tujuan yang
ingin dicapai dari konsep yang ditawarkan, (2) Berorientasi pada sumberdaya
wisata yang digunakan, dan (3) berorientasi pada bentuk-bentuk kegiatan wisata
yang diselenggarakan.
B. Unsur-unsur Pengembangan Ekowisata
Pengembangan ekowisata sangat
dipengaruhi oleh keberadaan unsur-unsur yang harus ada dalam pengembangan itu
sendiri, yaitu:
1. Sumber daya alam, peninggalan
sejarah dan budaya
Kekayaan keanekaragaman hayati merupakan daya tarik utama
bagi pangsa pasar ekowisata sehingga kualitas, keberlanjutan dan pelestarian
sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya menjadi sangat penting untuk
pengembangan ekowisata. Ekowisata juga memberikan peluang yang sangat besar
untuk mempromosikan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia di tingkat
internasional, nasional maupun lokal.
2. Masyarakat
Pada dasarnya pengetahuan tentang alam dan budaya serta daya
tarik wisata kawasan dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu
pelibatan masyarakat menjadi mutlak, mulai dari tingkat perencanaan hingga pada
tingkat pengelolaan.
3. Pendidikan
Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap
alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya. Ekowisata memberikan nilai
tambah kepada pengunjung dan masyarakat dalam bentuk pengetahuan dan
pengalaman. Nilai tambah ini mempengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung,
masyarakat dan pengembang pariwisata agar sadar dan lebih menghargai alam,
nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.
4. Pasar
Kenyataan memperlihatkan kecendrungan meningkatnya
permintaan terhadap produk ekowisata baik di tingkat internasional dan
nasional. Hal ini disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk
berperilaku positif terhadap alam dan berkeinginan untuk mengunjungi
kawasan-kawasan yang masih alami agar dapat meningkatkan kesadaran, penghargaan
dan kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai sejarah dan budaya setempat.
5. Ekonomi
Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan
bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, melalui
kegiatan-kegiatan yang non ekstraktif, sehingga meningkatkan perekonomian
daerah setempat. Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata
mewujudkan ekonomi berkelanjutan.
6. Kelembagaan
Pengembangan ekowisata pada mulanya lebih banyak dimotori
oleh Lembaga Swadaya Masyarakat, pengabdi masyarakat dan lingkungan. Hal ini
lebih banyak didasarkan pada komitmen terhadap upaya pelestarian lingkungan,
pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Namun
kadang kala komitmen tersebut tidak disertai dengan pengelolaan yang baik dan
profesional, sehingga tidak sedikit kawasan ekowisata yang hanya bertahan
sesaat. Sementara pengusaha swasta belum banyak yang tertarik menggarap bidang
ini, karena usaha seperti ini dapat dikatakan masih relatif baru dan kurang
diminati karena harus memperhitungkan social cost dan ecological-cost dalam pengembangannya.
Masalah yang mendasar adalah bagaimana membangun pengusaha
yang berjiwa pengabdi masyarakat dan lingkungan atau lembaga pengabdi
masyarakat yang berjiwa pengusaha yang berwawasan lingkungan. Pilihan kedua,
yaitu mengembangkan lembaga pengabdi masyarakat yang berjiwa pengusaha
berwawasan lingkungan dilihat lebih memungkinkan, dengan cara memberikan
pelatihan manajemen dan profesionalisme usaha. Untuk hal ini diperlukan bentuk
kerja sama dan kemitraan yang nyata yang bersifat lintas sektor, baik ditingkat
lokal, nasional, bahkan jika memungkinkan tingkat internasional, secara
sinergis saling menguntungkan, tidak bersifat eksploitatif, adil dan transparan
dengan pembagian tugas yang jelas.
Aktualisasi dari kerja sama ini, juga dimungkinkan bagi daerah
yang akan mengembangkan Daerah Tujuan Ekowisata dengan memanfaatkan potensi
Taman Wisata Alam dan Taman Nasional yang ada di wilayahnya. Pemerintah daerah
setempat dapat memprakarsai pembentukan suata “Badan” (“board”) yang akan
mengelola ekowisata secara profesional.
Dari berbagai unsur-unsur
pengembangan ekowisata yang telah dijelaskan maka perlu adanya prinsip-prinsip
pengembangan ekowisata. Dalam pengembangan ekowisata perlu diperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
1. Konservasi
·
Pemanfaatan keanekaragaman hayati tidak merusak sumber daya
alam itu sendiri.
·
Relatif tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan
dan kegiatannya bersifat ramah lingkungan.
·
Dapat dijadikan sumber dana yang besar untuk membiayai
pembangunan konservasi.
·
Dapat memanfaatkan sumber daya lokal secara lestari.
·
Meningkatkan daya dorong yang sangat besar bagi pihak swasta
untuk berperan serta dalam program konservasi. Mendukung upaya pengawetan
jenis.
2. Pendidikan
Meningkatkan kesadaran masyarakat dan merubah perilaku
masyarakat tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya.
3. Ekonomi
·
Dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi pengelola kawasan,
penyelenggara ekowisata dan masyarakat setempat.
·
Dapat memacu pembangunan wilayah, baik di tingkat lokal,
regional mapun nasional.
·
Dapat menjamin kesinambungan usaha.
·
Dampak ekonomi secara luas juga harus dirasakan oleh
kabupaten/kota, propinsi bahkan nasional.
4. Peran Aktif Masyarakat
·
Membangun hubungan kemitraan dengan masyarakat setempat
·
Pelibatan masyarakat sekitar kawasan sejak proses
perencanaan hingga tahap pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi.
·
Menggugah prakarsa dan aspirasi masyarakat setempat untuk
pengembangan ekowisata.
·
Memperhatikan kearifan tradisional dan kekhasan daerah
setempat agar tidak terjadi benturan kepentingan dengan kondisi sosial budaya
setempat.
·
Menyediakan peluang usaha dan kesempatan kerja semaksimal
mungkin bagi masyarakat sekitar kawasan.
5. Wisata
·
Menyediakan informasi yang akurat tentang potensi kawasan
bagi pengunjung.
·
Kesempatan menikmati pengalaman wisata dalam lokasi yang
mempunyai fungsi konservasi.
·
Memahami etika berwisata dan ikut berpartisipasi dalam
pelestarian lingkungan.
·
Memberikan kenyamanan dan keamanan kepada pengunjung.
C. Peran Perguruan
Tinggi Dalam Pengembangan Ekowisata
Di abad 21 pariwisata mengalami pertumbuhan yang
sangat pesat yang berimplikasi pada suatau daerah tujuan pariwisata, termasuk
Indonesia. Dengan potensi kekayaan alam, sosial budaya sebagai modal dasar
kegiatan pariwisata, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara
tujuan utama di dunia.
Perkembangan pariwisata suatu
destinasi akan berpengaruh pada semua aspek pendukung majunya daerah
pariwisata, tak terkecuali SDM. Semakin berkembangannya daerah pariwisata akan
semakin banyak SDM yang di butuhkan. Dengan kata lain efek dari berkembanganya
pariwisata akan secara langsung di rasakan oleh masyarakat khususnya masyrakat
sekitar destinasi wisata.
Bukan berarti dengan banyaknya SDM
yang di butuhkan masalah lapangan kerja bisa di pecahkan, secara kasat mata dan
kuantitas memang tidak bisa di pungkiri bahawa efek perkembangan pariwisata
mampu memberi dampak positif, mengurangi pengangguran yang selama ini menjadi
permasalahan bangsa. Akan tetapi bila di cermati dengan seksama, pekerja di
bidang pariwisata lebih banyak di bidang informal dengan kemapuan dan kualitas
SDM rendah.
Dalam data BPS menyebutkan 62,71% atau sekitar 49,1 juta warga negara Indonesia bekerja di bidang informal, meskipun tidak disebutkan berapa banyak pekerja di bidang pariwisata akan tetapi tentunya pariwisata dimungkinkan menyumbang jumlah yang tidak sedikit. Dengan pemahaman yang kurang mendalam, hal ini memungkinkan mereka di jadikan alat untuk mengeksploitasi destinasi pariwisata dengan embel-embel kesejahteraan.
Dalam data BPS menyebutkan 62,71% atau sekitar 49,1 juta warga negara Indonesia bekerja di bidang informal, meskipun tidak disebutkan berapa banyak pekerja di bidang pariwisata akan tetapi tentunya pariwisata dimungkinkan menyumbang jumlah yang tidak sedikit. Dengan pemahaman yang kurang mendalam, hal ini memungkinkan mereka di jadikan alat untuk mengeksploitasi destinasi pariwisata dengan embel-embel kesejahteraan.
Disinilah peran dari perguruan tinggi sebagai
instansi pendidikan untuk menghasilkan SDM yang mampu menjawab permasalah ini.
Dengan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi “pelayan”
pasar, akan tetapi juga bagaimana membuat kebijakan yang sesuai dan juga
memiliki sifat keberlanjutan. Keberlanjutan suatu obyek pariwisata akan
terjadi apa bila masyarakat sekitar destinasi merasakan secara langsung manfaat
dari kegiatan pariwisata, dengan keadaan seperti ini tentunya aspek sosial
budaya menjadi perhatian utama.
Dengan kompleksitas permasalahan
pariwisata seperti ini,perguruan tinggi sebagai instansi pendidikan pariwisata
diharapkan mampu menciptakan tenaga ahli pariwisata yang memiliki pola pikir
yang orientasinya kesejahtaraan masyarakat. Menciptakan konsep pariwisata
yang mampu mempertahankan orisinalitas suatu destinasi wisata sehingga mampu
meminimalisir degradasi fundamental destinasi wisata yang di bawa oleh
wisatawan.
Dalam pendidikan di Indonesia,
khususnya di jenjang perguran tinggi sederajat, ilmu kepariwisataan baru di
akui sebagai ilmu pada pada tanggal 31 Maret 2008. Pada saat itu keluar surat
dari Dirjen Dikti Depdiknas No.947/D/T/2008 dan 948/D/T/2008. Secara eksplisit
pemerintah menyetujui di bukannya jenjang S1 dalam bidang pariwisata.
Bisa dikatakan bahwa hal pengakuan
tehadap pariwisata sebagai ilmu mandiri ini sangatlah terlambat dan tidak
seiring dengan perkembangan pariwisata Indonesia. Wajah pendidikan pariwisata
Indonesia sebelum di tetapkannya pariwisata sebagai ilmu mandiri sangatlah
ironis apa bila di bandingkan dengan perkembangan pariwisata Indonesia yang
sudah di mulai sejak awal tahun 1900an oleh pemerintah kolonial. Meskipun
setelah kemerdekaan STP Bandung yang dulunya bernama NHI sudah berdiri sebagai
tahun 1959 menjadi tonggak awal pendidikan pariwisata di Indonesia.
Dewasa ini pendidikan pariwisata Indonesia masih
berorientasi pada mencetak ahli dalam tataran praksis. Menciptakan praktisi
yang siap kerja saat lulus dari jenjang perguruan tinggi nanti. Bisa di lihat
dari indikator program studi dan perguuan tinggi yang rata-rata berjenjang
diploma 3, program diploma 3 memang di arahkan ke rahan praktisi untuk
mengisi pos-pos yang membutuhkan kempauan aplikatif secara langsung.
Sedangkan SDM akademisi yang identik dengan
penelitian yang berujung pada kebijakan dan membentuk patron-patron pakem, pola
pikir sesuai perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat serta membuat
kebijakan yang bisa mengakomodir semua kepentingan, berorientasi pada
kesejahteraan masyarakat saat ini masihlah minim.
Tentunya apabila ini tidak segera di atasi
khususnya instansi pendidikan bisa berpengeruh negatif pada perkembangan
pariwisata Indonesia. Pariwisata bukan hanya masalah bagaimana menjual
obyek wisata tetapi juga bagaimana bisa mengkonsep pariwisata yang berbasis
keberlanjutan. Menjaga warisan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Kesadaran ini
harus di pupuk di perguruan tinggi, menempa idealisme sesuai dengan kondisi
realita bangsa.
III.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan maka dapat
diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. ekowisata
adalah suatu kegiatan perjalanan yang bertanggung jawab dikemas secara
profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha
ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan
penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan.
2. Unsur-unsur
yang ada dalam pengembangan ekowisata antara lain sumber
daya alam, peninggalan sejarah dan budaya,masyarakat, pendidikan,
pasar, ekonomi dan kelembagaan.
3. Peran dari perguruan tinggi sebagai
instansi pendidikan pariwisata diharapkan mampu menciptakan tenaga ahli
pariwisata yang memiliki pola pikir yang orientasinya kesejahtaraan masyarakat,
menciptakan konsep pariwisata yang mampu mempertahankan orisinalitas suatu
destinasi wisata sehingga mampu meminimalisir degradasi fundamental destinasi
wisata yang di bawa oleh wisatawan.
B. Saran
Dalam
rangka mewujudkan pengembangan ekowisata yang berkelanjutan maka partispasi
atau kerjasama seluruh pihak yang berkepentingan (Stakeholders) termasuk
perguruan tinggi sebagai instansi pendidikan sangat dibutuhkan.
DATAR PUSTAKA
Nugroho
Iwan, 2006. Ecotourism. Universitas
Widyagama. Malang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar