Rabu, 16 Maret 2016

Peran Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Ekowisata



Makalah
REKREASI  ALAM  DAN  EKOWISATA
“ Peran Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Ekowisata “

OLEH :
ASRIADI. AR
D1B5 10 128




JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara megabiodiversity nomor dua di dunia, telah dikenal memiliki kekayaan alam flora dan fauna yang sangat tinggi. Para explorer dari dunia barat maupun timur jauh telah mengunjungi indonesia pada abad ke lima belas yang lalu.
Perjalanan eksplorasi yang ingin mengetahui keadaan telah dilakukan oleh marcopollo, Washington, Wallacea, Weber, Junghuhn dan Van Steines dan masih banyak yang lain merupakan perjalanan antar pulau dan antar benua yang penuh dengan tantangan. Para adventner ini melakukan perjalanan ke alam yang merupakan awal dari perjalanan ekowisata (ecotourism). Ekowisata adalah kegiatanperjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk local serta upaya-upaya konservasi,sumberdaya alam dan lingkungan.
Pemakaian istilah ekowisata lebih populer dibanding dengan terjemahan yang seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme, yang pada tahun 1990 oleh the ecotourism society didefinisikan sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggung jawab ke area alami dan berpetualang, yang dilakukan untuk tujuan konservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan untuk kesejahteraan penduduk setempat. Definisi dan pengertian ecotourism di atas, sekedar memberikan pemahaman bahwa dinamika ekowisata sebagai bidang ilmu telah diminati oleh banyak kalangan khususnya scholars.
Secara umum pengembangan ekowisata harus dapat meningkatkan kualitas hubungan antar manusia, meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat dan menjaga kualitas lingkungan. Oleh karena itu untuk mewujudkan hal tersebut maka pengembangan ekowisata membutuhkan kerjasama para pihak yang berkepentingan atau stakeholders, yaitu pemerintah, swasta, LSM, penduduk lokal, perguruan tinggi, dan  organisasi internasional. Dalam makalah ini lebih khusus membahas peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekowisata.
B. Rumusan Masalah
            Masalah yang diangkat dalam penulisan makalah ini yaitu:
1.      Apa yang dimaksud dengan ekowisata?
2.      Apa saja unsur-unsur yang harus ada dalam pengembangan ekowisata?
3.      Bagaimana peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekowisata?
C. Tujuan
            Tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui pengertian ekowisata
2.      Untuk mengetahui unsur-unsur yang harus ada dalam pengembangan ekowisata
3.      Untuk mengetahui peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekowisata





II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Ekowisata
Dalam sebuah buku yang berjudul ”Ecotourism”, Iwan Nugroho menjelaskan bahwa ekowisata adalah kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk local serta upaya-upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan.
Telah banyak hasil studi dan definisi para ahli memberikan pengertian tentang ecotourism, namun menurut Fandeli, (2000), pemakaian istilah ekowisata lebih populer dibanding dengan terjemahan yang seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme, yang pada tahun 1990 oleh the ecotourism society didefinisikan sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggung jawab ke area alami dan berpetualang, yang dilakukan untuk tujuan konservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan untuk kesejahteraan penduduk setempat. Keragaman sudut pandang para ahli menyangkut definisi dan pengertian ekoturisme cukup dinamis dan positif sepanjang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan disiplin ilmu ekoturisme itu sendiri. Walaupun dari segi keilmuan belum final, setidaknya Avenzora, (2003) telah merangkum berbagai definisi ecotourism yang ada dalam satu terminologi tiga pola yaitu: (1) berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai dari konsep yang ditawarkan, (2) Berorientasi pada sumberdaya wisata yang digunakan, dan (3) berorientasi pada bentuk-bentuk kegiatan wisata yang diselenggarakan.
B. Unsur-unsur Pengembangan Ekowisata
Pengembangan ekowisata sangat dipengaruhi oleh keberadaan unsur-unsur yang harus ada dalam pengembangan itu sendiri, yaitu:
1. Sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya
Kekayaan keanekaragaman hayati merupakan daya tarik utama bagi pangsa pasar ekowisata sehingga kualitas, keberlanjutan dan pelestarian sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya menjadi sangat penting untuk pengembangan ekowisata. Ekowisata juga memberikan peluang yang sangat besar untuk mempromosikan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional maupun lokal.
2. Masyarakat
Pada dasarnya pengetahuan tentang alam dan budaya serta daya tarik wisata kawasan dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu pelibatan masyarakat menjadi mutlak, mulai dari tingkat perencanaan hingga pada tingkat pengelolaan.
3. Pendidikan
Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya. Ekowisata memberikan nilai tambah kepada pengunjung dan masyarakat dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman. Nilai tambah ini mempengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung, masyarakat dan pengembang pariwisata agar sadar dan lebih menghargai alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.

4. Pasar
Kenyataan memperlihatkan kecendrungan meningkatnya permintaan terhadap produk ekowisata baik di tingkat internasional dan nasional. Hal ini disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk berperilaku positif terhadap alam dan berkeinginan untuk mengunjungi kawasan-kawasan yang masih alami agar dapat meningkatkan kesadaran, penghargaan dan kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai sejarah dan budaya setempat.
5. Ekonomi
Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang non ekstraktif, sehingga meningkatkan perekonomian daerah setempat. Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata mewujudkan ekonomi berkelanjutan.
6. Kelembagaan
Pengembangan ekowisata pada mulanya lebih banyak dimotori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat, pengabdi masyarakat dan lingkungan. Hal ini lebih banyak didasarkan pada komitmen terhadap upaya pelestarian lingkungan, pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Namun kadang kala komitmen tersebut tidak disertai dengan pengelolaan yang baik dan profesional, sehingga tidak sedikit kawasan ekowisata yang hanya bertahan sesaat. Sementara pengusaha swasta belum banyak yang tertarik menggarap bidang ini, karena usaha seperti ini dapat dikatakan masih relatif baru dan kurang diminati karena harus memperhitungkan social cost dan ecological-cost dalam pengembangannya.
Masalah yang mendasar adalah bagaimana membangun pengusaha yang berjiwa pengabdi masyarakat dan lingkungan atau lembaga pengabdi masyarakat yang berjiwa pengusaha yang berwawasan lingkungan. Pilihan kedua, yaitu mengembangkan lembaga pengabdi masyarakat yang berjiwa pengusaha berwawasan lingkungan dilihat lebih memungkinkan, dengan cara memberikan pelatihan manajemen dan profesionalisme usaha. Untuk hal ini diperlukan bentuk kerja sama dan kemitraan yang nyata yang bersifat lintas sektor, baik ditingkat lokal, nasional, bahkan jika memungkinkan tingkat internasional, secara sinergis saling menguntungkan, tidak bersifat eksploitatif, adil dan transparan dengan pembagian tugas yang jelas.
Aktualisasi dari kerja sama ini, juga dimungkinkan bagi daerah yang akan mengembangkan Daerah Tujuan Ekowisata dengan memanfaatkan potensi Taman Wisata Alam dan Taman Nasional yang ada di wilayahnya. Pemerintah daerah setempat dapat memprakarsai pembentukan suata “Badan” (“board”) yang akan mengelola ekowisata secara profesional.
Dari berbagai unsur-unsur pengembangan ekowisata yang telah dijelaskan maka perlu adanya prinsip-prinsip pengembangan ekowisata. Dalam pengembangan ekowisata perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Konservasi
·         Pemanfaatan keanekaragaman hayati tidak merusak sumber daya alam itu sendiri.
·         Relatif tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kegiatannya bersifat ramah lingkungan.
·         Dapat dijadikan sumber dana yang besar untuk membiayai pembangunan konservasi.
·         Dapat memanfaatkan sumber daya lokal secara lestari.
·         Meningkatkan daya dorong yang sangat besar bagi pihak swasta untuk berperan serta dalam program konservasi. Mendukung upaya pengawetan jenis.
2. Pendidikan
Meningkatkan kesadaran masyarakat dan merubah perilaku masyarakat tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
3. Ekonomi
·         Dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi pengelola kawasan, penyelenggara ekowisata dan masyarakat setempat.
·         Dapat memacu pembangunan wilayah, baik di tingkat lokal, regional mapun nasional.
·         Dapat menjamin kesinambungan usaha.
·         Dampak ekonomi secara luas juga harus dirasakan oleh kabupaten/kota, propinsi bahkan nasional.
4. Peran Aktif Masyarakat
·         Membangun hubungan kemitraan dengan masyarakat setempat
·         Pelibatan masyarakat sekitar kawasan sejak proses perencanaan hingga tahap pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi.
·         Menggugah prakarsa dan aspirasi masyarakat setempat untuk pengembangan ekowisata.
·         Memperhatikan kearifan tradisional dan kekhasan daerah setempat agar tidak terjadi benturan kepentingan dengan kondisi sosial budaya setempat.
·         Menyediakan peluang usaha dan kesempatan kerja semaksimal mungkin bagi masyarakat sekitar kawasan.
5. Wisata
·         Menyediakan informasi yang akurat tentang potensi kawasan bagi pengunjung.
·         Kesempatan menikmati pengalaman wisata dalam lokasi yang mempunyai fungsi konservasi.
·         Memahami etika berwisata dan ikut berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan.
·         Memberikan kenyamanan dan keamanan kepada pengunjung.
C. Peran Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Ekowisata
          Di abad 21 pariwisata mengalami pertumbuhan yang sangat pesat yang berimplikasi pada suatau daerah tujuan pariwisata, termasuk Indonesia. Dengan potensi kekayaan alam, sosial budaya sebagai modal dasar kegiatan pariwisata, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara tujuan utama di dunia.
             Perkembangan pariwisata suatu destinasi akan berpengaruh pada semua aspek pendukung majunya daerah pariwisata, tak terkecuali SDM. Semakin berkembangannya daerah pariwisata akan semakin banyak SDM yang di butuhkan. Dengan kata lain efek dari berkembanganya pariwisata akan secara langsung di rasakan oleh masyarakat khususnya masyrakat sekitar destinasi wisata.
             Bukan berarti dengan banyaknya SDM yang di butuhkan masalah lapangan kerja bisa di pecahkan, secara kasat mata dan kuantitas memang tidak bisa di pungkiri bahawa efek perkembangan pariwisata mampu memberi dampak positif, mengurangi pengangguran yang selama ini menjadi permasalahan bangsa. Akan tetapi bila di cermati dengan seksama, pekerja di bidang pariwisata lebih banyak di bidang informal dengan kemapuan dan kualitas SDM rendah.
        Dalam data BPS menyebutkan 62,71% atau sekitar 49,1 juta warga negara Indonesia bekerja di bidang informal, meskipun tidak disebutkan berapa banyak pekerja di bidang pariwisata akan tetapi tentunya pariwisata dimungkinkan menyumbang jumlah  yang tidak sedikit. Dengan pemahaman yang kurang mendalam, hal ini memungkinkan mereka di jadikan alat untuk mengeksploitasi destinasi pariwisata dengan embel-embel kesejahteraan.
           Disinilah peran dari perguruan tinggi sebagai instansi pendidikan untuk menghasilkan SDM yang mampu menjawab permasalah ini. Dengan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi “pelayan” pasar, akan tetapi juga bagaimana membuat kebijakan yang sesuai dan juga memiliki sifat keberlanjutan.  Keberlanjutan suatu obyek pariwisata akan terjadi apa bila masyarakat sekitar destinasi merasakan secara langsung manfaat dari kegiatan pariwisata, dengan keadaan seperti ini tentunya aspek sosial budaya menjadi perhatian utama.
             Dengan kompleksitas permasalahan pariwisata seperti ini,perguruan tinggi sebagai instansi pendidikan pariwisata diharapkan mampu menciptakan tenaga ahli pariwisata yang memiliki pola pikir yang orientasinya kesejahtaraan masyarakat.  Menciptakan konsep pariwisata yang mampu mempertahankan orisinalitas suatu destinasi wisata sehingga mampu meminimalisir degradasi fundamental destinasi wisata yang di bawa oleh wisatawan.
              Dalam pendidikan di Indonesia, khususnya di jenjang perguran tinggi sederajat, ilmu kepariwisataan baru di akui sebagai ilmu pada pada tanggal 31 Maret 2008. Pada saat itu keluar surat dari Dirjen Dikti Depdiknas No.947/D/T/2008 dan 948/D/T/2008. Secara eksplisit pemerintah menyetujui di bukannya jenjang S1 dalam bidang pariwisata.
             Bisa dikatakan bahwa hal pengakuan tehadap pariwisata sebagai ilmu mandiri ini sangatlah terlambat dan tidak seiring dengan perkembangan pariwisata Indonesia. Wajah pendidikan pariwisata Indonesia sebelum di tetapkannya pariwisata sebagai ilmu mandiri sangatlah ironis apa bila di bandingkan dengan perkembangan pariwisata Indonesia yang sudah di mulai sejak awal tahun 1900an oleh pemerintah kolonial. Meskipun setelah kemerdekaan STP Bandung yang dulunya bernama NHI sudah berdiri sebagai tahun 1959 menjadi tonggak awal pendidikan pariwisata di Indonesia.
Dewasa ini pendidikan pariwisata Indonesia masih berorientasi pada mencetak ahli dalam tataran praksis. Menciptakan praktisi yang siap kerja saat lulus dari jenjang perguruan tinggi nanti. Bisa di lihat dari indikator program studi dan perguuan tinggi yang rata-rata berjenjang diploma 3,  program diploma 3 memang di arahkan ke rahan praktisi untuk mengisi pos-pos yang membutuhkan kempauan aplikatif secara langsung.
         Sedangkan SDM akademisi yang identik dengan penelitian yang berujung pada kebijakan dan membentuk patron-patron pakem, pola pikir sesuai perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat serta membuat kebijakan yang bisa mengakomodir semua kepentingan, berorientasi pada kesejahteraan masyarakat saat ini masihlah minim.
            Tentunya apabila ini tidak segera di atasi khususnya instansi pendidikan bisa berpengeruh negatif pada perkembangan pariwisata Indonesia.  Pariwisata bukan hanya masalah bagaimana menjual obyek wisata tetapi juga bagaimana bisa mengkonsep pariwisata yang berbasis keberlanjutan. Menjaga warisan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Kesadaran ini harus di pupuk di perguruan tinggi, menempa idealisme sesuai dengan kondisi realita bangsa.










III. PENUTUP
A. Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.      ekowisata adalah suatu kegiatan perjalanan yang bertanggung jawab dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan.
2.      Unsur-unsur yang ada dalam pengembangan ekowisata antara lain sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya,masyarakat, pendidikan, pasar, ekonomi dan kelembagaan.
3.      Peran dari perguruan tinggi sebagai instansi pendidikan pariwisata diharapkan mampu menciptakan tenaga ahli pariwisata yang memiliki pola pikir yang orientasinya kesejahtaraan masyarakat, menciptakan konsep pariwisata yang mampu mempertahankan orisinalitas suatu destinasi wisata sehingga mampu meminimalisir degradasi fundamental destinasi wisata yang di bawa oleh wisatawan.
B. Saran
            Dalam rangka mewujudkan pengembangan ekowisata yang berkelanjutan maka partispasi atau kerjasama seluruh pihak yang berkepentingan (Stakeholders) termasuk perguruan tinggi sebagai instansi pendidikan sangat dibutuhkan.
DATAR PUSTAKA

Nugroho Iwan, 2006. Ecotourism. Universitas Widyagama. Malang
                                                                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar