Kamis, 31 Maret 2016

ESTIMASI SIMPANAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN TANAH PADA KAWASAN HUTAN KONSERVASI SUAKA MARGASATWA TANJUNG PEROPA KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA



“ESTIMASI SIMPANAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN TANAH PADA KAWASAN HUTAN KONSERVASI SUAKA MARGASATWA TANJUNG PEROPA KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Estimation of Carbon Storage in Upper Surface Soil in Forest Area Wildlife Conservation Cape Peropa (SMTP) South Konawe, Southeast Sulawesi

1. Asriadi. AR
2. Sitti Marwah
3. Alamsyah Flamin


JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN DAN ILMU LINGKUNGAN
UNIVERSITAS HALU OLEO


ABSTRACT
This study aimed to estimate the amount of carbon stored above ground in conservation areas SMTP. This study took place in December 2014 - April 2015. Determination of the location area of ​​research carried out by using purposive sampling method. The method used in this research is to use the method of estimation based on allometric equations. Tree biomass measurements performed by non desctructive (do not damage the plant). The results of the study of carbon deposits on the surface of the ground at the SMTP Use Zone Conservation Area covers an area of ​​1,006 ha of carbon deposits amounting to 317,976.48 tons tree level, not branching tree of 6951.46 tons, down by 935.58 tons plants, litter amounted to 3,521 tons , and nekromassa of 221.32 tons. Overall estimates of the total amount of carbon stored above ground level on the SMTP Use Zone of 329,605.84 carbon ton.

Keywords: Biomass, Carbon, Natural Forest

















I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia memiliki hamparan hutan yang luas serta berbagai potensi yang terkandung di dalamnya baik hayati maupun non hayati, dengan luas hutan Indonesia sebesar 99,6 juta hektar atau 52,3% luas wilayahnya (Statistik Kehutanan Indonesia Kemenhut, 2012) ,  sehingga hutan Indonesia menjadi salah satu paru-paru dunia yang sangat penting peranannya bagi kehidupan isi bumi. Secara umum, fungsi hutan dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu fungsi ekonomi, fungsi ekologi, dan fungsi sosial. Namun pada kenyataannya saat ini pengelolaan dan pemanfaatan hutan sering dilakukan tanpa mengacu pada ketiga fungsi tersebut, sehingga terkadang salah satu fungsinya terabaikan. Ketiga fungsi pokok tersebut diatas dapat terpenuhi melalui pemanfaatan hasil hutan diantaranya hasil hutan kayu, non kayu, dan jasa lingkungan, dimana manfaat tersebut dapat berupa manfaaat langsung maupun tidak langsung.
Salah satu kontribusi hutan yang paling besar manfaatnya bagi kehidupan yaitu kemampuannya dalam menghasilkan oksigen dan menyerap karbon. Hutan alam merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi bila dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan (SPL) lainnya . Oleh karena itu, hutan alam dengan keragaman jenis pepohonan berumur panjang dan serasah yang banyak merupakan gudang penyimpan karbon tertinggi. Bila hutan diubah fungsinya menjadi lahan-lahan pertanian, perkebunan atau ladang penggembalaan maka jumlah karbon tersimpan akan merosot. Jumlah karbon tersimpan antar lahan tersebut berbeda-beda, tergantung pada keragaman dan kerapatan tumbuhan yang ada.
Hutan alam memiliki jumlah karbon tersimpan tertinggi sekitar 497 Mg ha-1 dibandingkan sistem penggunaan lahan lainnya, namun gangguan hutan alam menjadi hutan sekunder menyebabkan kehilangan sekitar 250 Mg C ha-1. Kehilanggan cadangan C terbesar di atas permukaan tanah dapat terjadi karena hilangnya vegetasi. Biomasa hutan berperan penting dalam siklus biogeokimia terutama dalam siklus karbon. Dari keseluruhan karbon hutan, sekitar 50% diantaranya tersimpan dalam vegetasi hutan. Sebagai konsekuensi, jika terjadi kerusakan hutan, kebakaran, pembalakan dan sebagainya akan menambah jumlah karbon di atmosfer (Hairiah K., et al, 2007).
Salah satu hutan alam yakni Suaka Margasatwa Tanjung Peropa (SMTP) yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Latar belakang penunjukannya sebagai kawasan konservasi adalah karena kelompok hutan Tajung Peropa merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropika dengan tipe vegetasi hutan non dipterocarpaceae, hutan belukar, hutan pantai dan  hutan bakau yang merupakan habitat jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi (BKSDA Sultra, 2009). Keberlangsungan hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa tersebut membutuhkan kondisi lingkungan yang optimal seperti suhu, kelembaban, kondisi tanah, dan sebagainya sehingga kawasan hutan SMTP memiliki peranan penting dalam mewujudkan hal tersebut. Inforrmasi mengenai jumlah biomassa dan kandungan karbon yang tersimpan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya fungsi ekologi dari Kawasan Konservasi SMTP sebagai kawasan hutan.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukannya suatu penelitan untuk menghitung besarnya karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah pada Kawasan Konservasi SMTP sebagai kawasan Hutan.

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu berapa besar karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah pada Kawasan Konservasi SMTP?

1.3. Kerangka Pikir
Hutan alam merupakan penyimpanan C tertinggi dibandingkan dengan SPL  pertanian, dikarenakan keragaman pohon yang tinggi (Hairiah, 2007). Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung dari keberadaan hutan di antaranya adalah kayu, hasil hutan bukan kayu dan satwa. Sedangkan manfaat tidak langsungnya adalah berupa jasa lingkungan, baik sebagai pengatur tata air, fungsi estetika, maupun sebagai penyedia oksigen dan penyerap karbon.
Salah satu hutan alam yakni Suaka Margasatwa Tanjung Peropa yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Hutan ini menjadi habitat berbagai tumbuhan dan satwa, dimana keberlangsungan hidupnya membutuhkan kondisi lingkungan  yang mendukung misalnya suhu, kondisi tanah, kelembaban dan sebagainya sehingga dapat dikatakan bahwa hutan ini memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon.
Mengukur jumlah C tersimpan di hutan dilakukan melalui tiga tahap pengukuran yaitu (1) Mengukur biomasa semua tanaman nekromasa dan serasah yang ada pada suatu lahan (2) Mengukur konsentrasi C tanaman di laboratorium (3) Menghitung kandungan C yang disimpan pada suatu lahan. Pengukuran dapat dilakukan tanpa melibatkan perusakan (misalnya menebang pohon), tetapi bisa pula harus merusak tumbuhan, terutama pada tumbuhan bawah. Menghitung biomassa pohon menggunakan persamaan allometrik yang telah dikembangkan oleh peneliti peneliti sebelumnya.
Tabel 2.Peralatan yang akan digunakan dalam penelitian pendugaan karbonadangan karbon hutan di atas permukaan tanah.
No
Nama Alat
Kegunaan
1
Bingkai kuadran
Sebagai titik contoh untuk pengambilan tumbuhan bawah dan Serasah
2
GPS
Mengukur ketinggian dan koordinat
3
Kantong plastik
Tempat penyimpanan sampel spesimen kayu dan Serasah
4
Kamera
Dokumentasi
5
Kantong sampel
Media sampel pada saat di oven
6
Meteran rol (panjang 30 m)
Menentukan dan mengukur luas petak/plot pengukuran
7
Oven
Mengeringkan sampel
8
Pita meter (panjang 1,5 m)
Mengukur keliling pohon
9
Parang tebas
Memotong
10
Peta kawasan SMTP
Mengambarkan lokasi penelitian
11
Peralatan tulis (ATK)
Mencatat hasil pengukuran
12
Tali berwarna (tali rapia)
Membuat plot sampel
13
Timbangan (kapasitas 1 kg, keakuratan 1 gr)
Mengukur BB dan BK sampel
Berdasarkan keberadaannya di alam biomassa dapat dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass) dan biomassa di bawah permukaan tanah (bellow ground biomass). Biomassa di atas permukaan tanah adalah berat bahan unsur organik per unit area yang ada dalam beberapa komponen ekosistem pada waktu tertentu (Indrawan, 1999 dalam Aditiyas, 2015). Hairiah et al., (2007) menyatakan biomassa di atas permukaan tanah terdiri dari biomassa pohon, biomassa tumbuhan bawah, nekromasa dan serasah.

1.4. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk menduga (estimasi) besarnya karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah pada Kawasan Konservasi SMTP.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai acuan data simpanan karbon bagi pemerintah, swasta, instansi terkait dan peneliti selanjutnya, mengingat masih terbatasnya sumber data tentang cadangan karbon, khususnya untuk Kawasan Konservasi SMTP.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 - April 2015 bertempat di Kawasan Hutan Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa Kabupaten Konawe Selatan, pengolahan data lanjutan dilakukan di Laboratorium Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2. Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesimen tumbuhan yang digunakan untuk identifikasi dan menghitung Berat jenis (Bj).
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini disajikan melalui Tabel  2.

3.3. Jenis Data
Jenis data terdiri dari:
1.         Data Primer: Observasi langsung ke lapangan yaitu mengukur diameter pohon, menentukan jenis pohon, serasah dan Nekromasa
2.         Data Sekunder: kondisi umum lokasi penelitian meliputi luas dan lokasi administratif, aksesibilitas, serta kondisi biofisik lingkungan.
3.4. Variabel Penelitian
Pada penelitian ini karbon yang diukur adalah karbon yang berada di atas permukaan tanah pada Blok Pemanfaatan Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, yang berupa:
1.     Biomassa Pohon. Proporsi terbesar penyimpanan C di daratan umumnya terdapat pada komponen pepohonan. Untuk mengurangi tindakan perusakan selama pengukuran, biomassa pohon dapat diestimasi dengan menggunakan persamaan alometrik yang didasarkan pada pengukuran diameter batang.
2.     Biomassa tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah meliputi semak belukar yang berdiameter batang < 5 cm, tumbuhan menjalar. Estimasi biomasa tumbuhan bawah dilakukan dengan mengambil bagian tanaman (melibatkan perusakan)
3.     Nekromasa. Batang pohon mati baik yang masih tegak atau telah tumbang dan tergeletak di permukaan tanah, yang merupakan komponen penting dari C dan harus diukur pula agar diperloleh estimasi penyimpanan C yang akurat
4.     Serasah. Serasah meliputi bagian tanaman yang telah gugur berupa daun dan ranting-ranting yang terletak di permukaan tanah
Untuk mendapatkan data mengenai parameter tersebut maka variabel yang diukur dalam penelitian ini disajikan melalui Tabel 3.


Tabel 3.Variabel yang diukur dalam penelitian Estimasi Simpanan Karbon di Atas Permukaan Tanah pada Kawasan Hutan Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa.
No
Variabel yang diukur
Parameter
Kegunaan
1
Diameter batang
Diameter setinggi dada (diameter at breast height: 1,3 m)
Mengukur volume pohon/kayu dan volume Nekromasa berkayu
2
Tinggi pohon
Tinggi total tanaman untuk jenis palem dan pandan
Menghitung volume pohon (jika pohon tidak bercabang)
3
Berat basah
Berat sampel saat diambil dari lokasi
Menentukan berat sampel awal/berat basah (BB)
4
Berat kering
Berat sampel setelah dikeringkan dalam oven selama 48 jam pada suhu 80 oC
Menentukan berat sampel setelah dikeringkan (BK)
5
Berat jenis
Berat jenis kayu (Bj) per satu satuan volume (gr/cm3)
Mengetahui berat jenis pohon/kayu


3.5. Teknik Penarikan Sampel
Penentuan areal plot pada lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Purposive Sampling. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi plot penelitian secara sengaja yang dianggap Representatif (Kusmana, 1997). Dengan didasarkan atas survei sebelumnya dan informasi yang di dapat dari pihak pengelola Kawasan Hutan Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa.
Berdasarkan uraian di atas maka penarikan sampel didasarkan pada  ketinggian tempat sehingga diperoleh 3 lokasi yaitu atas, tengah, dan bawah. Masing-masing lokasi tersebut terdiri dari 3 plot pengamatan sehingga jumlah plot secara keseluruhan yaitu 9 plot (7200 m2). Terdapat perbedaan potensi karbon tersimpan pada perbedaan ketinggian (Linggi, 2014).
Pengambilan data dilakukan dengan membuat plot berukuran 20 m x 40 m (800 m2) untuk tingkat pohon (diameter >5 cm), menentukan minimal enam sub plot pada setiap plot untuk pengambilan contoh tumbuhan bawah dan serasah, setiap sub plot berukuran 1 m x 1 m = 1 m2 (Hairiah K, 2007), dimana pada penelitian ini penempatan sub plot dilakukan secara sistematis. Pengambilan data pohon meliputi nama jenis, diameter setinggi dada dewasa (1,3 m) dan tinggi pohon.





3.6. Teknik Pengumpulan Data
1.     Pengukuran biomassa untuk tingkat pohon
Pengukuran biomassa pohon dilakukan dengan cara non desctructive (tidak merusak bagian tanaman). Membagi Sub Plot menjadi dua bagian dengan memasang tali di bagian tengah sehingga ada Sub-Sub Plot, masing-masing berukuran 10 m x 40 m, kemudian mencatat nama setiap pohon dan mengukur diameter batang setinggi dada (dbh = diameter at breast height = 1,3 m dari permukaan tanah) semua pohon yang masuk dalam Sub-Sub Plot sebelah kiri dan kanan. Dilakukan pengukuran dbh hanya pada pohon berdiameter > 5 cm, pohon dengan dbh < 5 cm diklasifikasikan sebagai tumbuhan bawah.
Bila permukaan tanah di lapangan dan bentuk pohon tidak rata, maka penentuan titik pengukuran dbh pohon dapat di lihat pada Lampiran 6. Melilitkan pita  pengukur pada batang pohon, dengan posisi pita harus sejajar untuk semua arah (Lampiran 7a), sehingga data yang diperoleh adalah lingkar/lilit batang (keliling batang = 2 Ï€ r), bila diameter pohon berukuran antara 5 – 20 cm, digunakan jangka sorong (caliper) untuk mengukur dbh (Lampiran 7b), data yang diperoleh adalah diameter pohon. Mencatat lilit batang atau diameter batang dari setiap pohon yang diamati pada blangko pengamatan. Khusus untuk pohon-pohon yang batangnya rendah dan bercabang banyak, maka semua diameter cabang harus di ukur. Jika pada Sub Plot terdapat tanaman tidak berkeping dua (dycotyle) seperti bambu, semua harus di ukur diameter dan tinggi untuk masing-masing individu dalam setiap rumpun tanaman. Demikian pula jika terdapat pohon tidak bercabang (jenis palem).
Jika dijumpai beberapa penyimpangan kondisi percabangan pohon atau permukaan batang pohon yang bergelombang atau adanya banir pohon, maka cara penentuan dbh dapat di lakukan seperti pada Lampiran 8 dan Lampiran 9. Bila terdapat tunggul bekas tebangan yang masih hidup dengan tinggi > 50 cm dan diameter > 5 cm, pengukuran dilakukan dengan mengukur diameter batang dan tingginya (Lampiran 10). Menetapkan berat jenis (Bj) kayu dari masing-masing jenis pohon dengan cara memotong kayu dari salah satu cabang, mengukur panjang, diameter dan menimbang berat basahnya.
Memasukan dalam oven pada suhu 80 °C selama 48 jam dan menimbang berat keringnya, kemudian menghitung volume dan berat jenis (Bj) kayu dengan rumus sebagai berikut:
Volume (cm3) = π R2 T
Dimana: R = jari-jari potongan kayu = ½ diameter (cm); T = Panjang kayu (cm)
BJ (g cm-3) =
Semua data yang diperoleh dari pengukuran dbh (pohon hidup) dimasukan ke dalam blangko pengamatan, kemudian data tersebut dibuatkan tabulasi data dalam program Microsoft Excell untuk penghitungan lebih lanjut. Menghitung biomassa pohon menggunakan persamaan allometrik yang telah dikembangkan oleh peneliti peneliti sebelumnya (Tabel 3), kemudian menjumlahkan biomassa semua pohon yang ada pada suatu lahan, sehingga diperoleh total biomassa pohon per lahan (kg/luasan lahan)
2.     Pengukuran biomassa tumbuhan bawah
Pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah harus dilakukan dengan metode descructive (merusak bagian tanaman), tumbuhan bawah yang diambil sebagai contoh adalah semua tumbuhan hidup berupa pohon yang berdiameter < 5 cm, herba dan rumput-rumputan. Langkah pertama yaitu dengan menempatkan kuadran bambu (Lampiran 11), kayu atau aluminium di dalam Plot (20 m x 40 m), memotong semua tumbuhan bawah (pohon yang berdiameter < 5 cm, herba dan rumput-rumputan) yang terdapat di dalam kuadran, pisahkan antara daun dan batang, sampel kemudian dimasukan ke dalam kantong kertas beri label sesuai dengan kode titik contohnya.
Untuk memudahkan penanganan, ikat semua kantong kertas berisi tumbuhan bawah yang diambil dari satu plot, masukan dalam karung besar untuk mempermudah pengangkutan ke kamp/laboratorium. Timbang berat basah daun atau batang, mencatat beratnya dalam blangko. Ambil Sub-contoh tanaman dari masing-masing biomassa daun dan bantang sekitar 100-300 gr. Bila biomassa contoh yang di dapatkan hanya sedikit (< 100 gr), maka timbang semua dan jadikan sebagai Sub-contoh. Keringkan sub-contoh biomassa tanaman yang telah diambil dalam oven pada suhu 80 °C selama 2 x 24 jam, timbang berat keringnya dan catat dalam blangko pengamatan.
3.     Pengukuran Nekromasa yang ada di Permukaan Tanah
Mengukur nekromasa dilakukan dengan mengambil contoh nekromasa (bagian tanaman mati) pada permukaan tanah yang masuk dalam  plot (20 m x 40 m).
a.       Nekromasa berkayu: pohon mati yang masih berdiri maupun yang roboh, tunggul-tunggul tanaman, cabang dan ranting yang masih utuh. Pada pohon yang mati berdiri, diameter di ukur pada 1,3 m
Tabel 4. Persamaan Allometrik yang digunakan untuk pendugaan biomasa pada Kawasan Hutan Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa.
Jenis pohon
Estimasi biomasa pohon (Kg/pohon)
Sumber
Pohon bercabang
BK = 0.11 r D2.62
Ketterings, 2001
Pohon tidak bercabang
BK = π r H D2/40
Hairiah et al, 1999
b.       di atas permukaan tanah. Pada pohon yang mati rebah baik cabang, ranting dan tunggul, pengukuran diameter dilakukan pada kedua ujungnya, mencatat dalam blangko pengukuran, kemudian mengambil sedikit contoh kayu ukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm, timbang berat basahnya, masukan dalam oven dengan suhu 80 °C selama 48 jam untuk menghitung Bj nya.
c.        Nekromasa tidak berkayu: menggunakan kuadran kayu/bambu/aluminium, kemudian mengambil contoh serasah kasar dan serasah halus langsung setelah pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah, melakukan pada titik contoh dan luas kuadran yang sama dengan yang dipakai untuk pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah. Mengambil semua sisa-sisa bagian tanaman mati, daun-daun dan ranting-ranting gugur yang terdapat dalam tiap-tiap kuadran, memasukkan dalam kantong kertas dan memberi label
d.       sesuai dengan kote titik contohnya. Untuk memudahkan penanganan, ikat semua kantong kertas berisi serasah yang diambil dari satu plot. Masukkan dalam karung besar untuk mempermudah pengangkutan ke kamp/laboratorium. Mengeringkan semua Serasah di bawah sinar matahari, bila sudah kering di ayak agar tanah yang menempel dalam Serasah rontok dan terpisah dengan Serasah. Menimbang contoh Serasah kering matahari (gr per 0,25 cm2). Mengambil sub contoh serasah sebanyak 100-300 gr untuk dikeringkan dalam oven pada suhu 80 °C selama 48 jam. Bila biomassa contoh  yang di dapatkan hanya sedikit (< 100 gr), maka timbang semuanya dan jadikan sebagai sub contoh. Menimbang berat keringnya dan mencatat dalam blangko pengamatan. Estimasi BK Serasah kasar per kuadran melalui perhitungan sebagai berikut:
total BK (gr) =
dimana, BK = berat kering, dan BB = berat basah (Hairiah, K et al, 2009).

3.7. Analisis Data
Pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Excel 2010. Semua sampel yang telah diambil diolah dilaboratorium dan dianalisis dengan menggunakan beberapa persamaan:
1.     Total berat kering (biomasa) pada pohon
Untuk menghitung biomassa pada tanaman digunakan persamaan allometrik umum bagi pohon. Persamaan allometrik yang digunakan dalam pendugaan biomassa pada penelitian ini disajikan pada Tabel 4. berikut:

Keterangan: BK = berat kering; D = diameter pohon, cm; H = Tinggi pohon, cm; r = BJ kayu, g cm-3
Sumber:  Hairiah, 2007.
2.     Total berat kering (biomasa) pada tanaman bawah
BK =
Dimana BK = berat kering dan BB = berat basah Sumber:  Hairiah, 2007.
3.     Total berat kering (biomasa) pada nekromasa berkayu
Hitung Diameter Nekromasa (D) dengan rumus:
D =
Untuk nekromasa berkayu dihitung dengan menggunakan rumus allometrik seperti sebagai berikut:
BK (kg/nekromasa) = π r H D2/40
Dimana H = panjang/tinggi nekromasa (cm), D = diameter nekromasa (cm), r = BJ kayu (gr cm-3). BJ kayu mati diperkirakan 0,35 gr cm-3 (Hairiah, 2007).
4.     Total berat kering pada nekromasa yang tidak berkayu
total BK (gr) =
dimana, BK = berat kering, dan BB = berat basah
(Hairiah, 2007).
5.     Biomasa per satuan luas
biomasa per satuan luas =
 (Hairiah, 2007).
Semua data (Total) biomasa dan nekromasa per satuan lahan dimasukan pada tabel estimasi total penyimpanan karbon bagian atas tanah (Mg ha-1), yang merupakan estimasi akhir jumlah C tersimpan per lahan, dimana konsentrasi C dalam bahan organik biasannya sekitar 46%, oleh karena itu estimasi jumlah C tersimpan per komponen  dapat dihitung dengan mengalikan total berat masannya dengan konsentrasi C, sebagai berikut :
Berat kering biomasa atau Nekromasa (kg ha-1) x 0,46




V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
Berdasarkan pengukuran, diperoleh 30 jenis pohon bercabang  dalam plot pengukuran. Jenis pohon  bercabang di Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP  disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis Biomassa dan Karbon Tersimpan Berdasarkan Jenis Pohon Pohon Bercabang di SMTP 2015
No
Jenis
Berat
Jenis
Jumlah Pohon/ha
Diameter Rata-rata
Biomassa (kg/Pohon)
Biomassa (ton/ha)
Karbon (ton/ha)
1
Ailanthus integrifolia L.
0,42
14
33,66
463,19
6,48
2,98
2
Albizia lebbeck B.
0,69
4
29,51
539,05
2,16
0,99
3
Alstonia scholaris
0,38
4
55,10
1523,71
6,09
2,80
4
Anthocephalus cadamba
0,42
4
48,62
1213,66
5,06
2,33
5
Artocarpus elasticus R.
0,44
19
83,35
5219,12
101,48
46,68
6
Baccauroa
0,84
6
55,73
3471,17
19,28
8,87
7
Canarium maluensa L.
0,66
4
18,79
157,98
0,66
0,30
8
Diplospora malaccensis
0,92
8
37,58
1353,80
11,28
5,19
9
Dyospiros celebica
1,09
38
28,80
799,07
29,97
13,78
10
Dyospiros pilosonthara B.
0,84
101
37,79
1254,59
127,20
58,51
11
Eugena
0,78
44
10,87
44,48
1,98
0,91
12
Evoidia celebica Hats
0,42
6
24,04
191,83
1,07
0,49
13
Fragrarea fragrans
0,81
3
39,01
1314,74
3,65
1,68
14
Hommalium foetidum B.
0,91
3
18,95
222,70
0,62
0,28
15
Intsia bijuga
0,84
1
57,01
3682,91
5,12
2,35
16
Kalappia celebica K.
0,64
3
55,73
2644,70
7,35
3,38
17
keycea sp.
0,97
1
35,67
1244,97
1,73
0,80
18
Litsea alboyana Vid
0,82
1
10,83
46,32
0,05
0,02
19
Metrosideros petiolata
1,15
31
39,55
1934,49
59,11
27,19
20
Nauclea orientalis
0,58
4
34,39
676,76
2,82
1,30
21
Parinari corimbosa Miq.
0,96
13
37,72
1426,65
17,83
8,20
22
Planchonia valida BL
0,62
32
34,44
725,73
23,18
10,66
23
Podocarpus blumi Endi BL
0,63
4
29,51
492,17
2,05
0,94
24
Pometia pinnata
0,77
39
35,43
971,03
37,76
17,37
25
Pouteria obovata Baehni
1,07
1
16,56
183,97
0,18
0,08
26
Pterospermum celebicum
0,44
24
24,93
221,03
5,22
2,40
27
Shorea koordersii Brandis
0,5
15
30,86
439,22
6,71
3,09
28
Sloetida elangata Kds
1,01
14
22,74
398,52
5,53
2,55
29
Spiracopsis celebica BL
0,49
10
20,79
152,92
1,49
0,68
30
Tristania
1,12
1
23,89
502,71
0,50
0,23
Jumlah
452

33.513,19
493,61
227,03
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2015
Tabel 6. Biomassa dan Karbon Tersimpan di Setiap Jenis pada Pohon Tidak Bercabang di SMTP Tahun 2015

No
Jenis
Jumlah Pohon/ha
Diameter
Rata-rata (cm)
Biomassa (kg/Pohon)
Biomassa (ton/ha)
Karbon (ton/ha)


1
Aren (Arenga pinnata)
67
25,71
1105,46
74,07
34,07

2
Palem (Ptychosperma macarthurii)
108
8,77
283,51
30,62
14,08

3
Pandan (Pandanus tectorius)
39
7,72
216,08
8,43
3,88

Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2015

Berdasarkan pengukuran, biomassa  dan karbon tersimpan berdasarkan jenis pohon tidak bercabang di zona  pemanfaatan  kawasan  konservasi SMTP disajikan  pada Tabel 6.
Berdasarkan pengukuran, biomassa dan karbon tersimpan pada pohon bercabang dan pohon tidak bercabang di Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP disajikan pada Tabel 7.
Berdasarkan analisis, diperoleh biomassa dan karbon tersimpan pada tingkat tumbuhan bawah, serasah, dan nekromassa di Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP disajikan pada Tabel 8.
Secara keseluruhan total biomassa dan karbon tersimpan di atas permukaan tanah pada  Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP disajikan pada Tabel 9.

Tabel 7. Total Biomassa dan Karbon Tersimpan pada Pohon Bercabang dan Pohon Tidak Becabang di SMTP Tahun 2015
No
Tingkat
Jumlah Pohon/ha
Biomassa (kg/pohon)
Biomassa (ton/ha)
Karbon (ton/ha)
1
Pohon Bercabang
450
1526,94
687,12
316,08
2
Pohon Tidak Bercabang
213
70,55
15,03
6,91
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2015

Tabel 8. Biomassa dan Karbon Tersimpan pada Tingkat Tumbuhan Bawah, Serasah, dan Nekromassa di SMTP Tahun 2015
No
Tingkat
Biomassa (ton/ha)
Karbon (ton/ha)
1
Tumbuhan Bawah
2,01
0,93
2
Serasah
7,62
3,50
3
Nekromassa
0,48
0,22
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2015.

Tabel 9. Total Biomassa dan Karbon Tersimpan pada Seluruh Areal SMTP Tahun  2015
No
Tingkat
Biomassa (ton/ha)
Karbon (ton/ha)
Karbon
(ton/1006 ha)
1
Pohon Bercabang
687,12
316,08
317.976,48
2
Pohon Tidak Bercabang
15,03
6,91
6.951,46
3
Tumbuhan Bawah
2,01
0,93
935,58
4
Serasah
7,62
3,5
3521
5
Nekromassa
0,48
0,22
221,32
Total
712,26
327,64
329.605,84
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2015

5.2. Pembahasan
Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung dari keberadaan hutan di antaranya adalah kayu, hasil hutan bukan kayu dan satwa. Sedangkan manfaat tidak langsungnya adalah berupa jasa lingkungan, baik sebagai pengatur tata air, fungsi estetika, maupun sebagai penyedia oksigen dan penyerap karbon. Penyerapan karbon sendiri terjadi didasarkan atas proses kimiawi dalam aktivitas fotosintesis tumbuhan yang menyerap CO2 dari atmosfer dan air dari tanah menghasilkan oksigen dan karbohidrat yang selanjutnya akan berakumulasi mejadi selulosa dan lignin sebagai cadangan karbon. Kerusakan hutan, perubahan iklim dan pemanasan global, menyebabkan manfaat tidak langsung dari hutan berkurang, yaitu karena hutan merupakan penyerap karbon terbesar dan memainkan peranan yang penting dalam siklus karbon global dan dapat menyimpan karbon sekurang kurangnya 10 kali lebih besar dibandingkan dengan tipe vegetasi lain seperti padang rumput, tanaman semusim dan tundra (Holdgate, 1995 dalam Adiriono, 2009).
Karbon merupakan salah satu unsur utama pembentuk bahan organik termasuk makhluk hidup. Hampir setengah dari organisme hidup merupakan karbon. Karenanya secara alami karbon banyak tersimpan di bumi (darat dan laut) dari pada di atmosfir. Karbon tersimpan dalam daratan bumi dalam bentuk makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), bahan organik mati ataupun sediment seperti fosil tumbuhan dan hewan. Sebagian besar jumlah karbon yang berasal dari makhluk hidup bersumber dari hutan.
Kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon tidak sama baik di hutan alam, hutan tanaman, hutan payau, hutan rawa maupun di hutan rakyat tergantung pada jenis pohon, tipe tanah dan topografi, dengan kata lain hutan alam memiliki kemampuan menyimpan karbon lebih tinggi dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan lainnya. Biomassa pohon merupakan salah satu sumber karbon yang sangat penting pada ekosistem hutan, karena sebagian besar karbon hutan berasal dari biomassa pohon. Pohon merupakan proporsi terbesar penyimpanan C di daratan.
Pengukuran biomassa pohon pada penelitian ini dilakukan dengan cara tidak langsung yaitu menggunakan persamaan allometrik yang didasarkan pada pengukuran diameter batang, berdasarkan pengukuran diperoleh 30 jenis pohon bercabang. Pengukuran biomassa pohon tidak bercabang dilakukan seperti pada pengukuran biomassa pohon bercabang, berdasarkan pengukuran diperoleh 3 jenis pohon tidak bercabang yang masuk dalam plot pengukuran yaitu jenis palem, rotan, dan pandan.
Berbeda dengan pengukuran biomassa pohon bercabang dan pohon tidak bercabang, pengukuran biomassa tumbuhan bawah dilakukan dengan metode destructive sampling atau melibatkan perusakan tanaman. Tumbuhan bawah meliputi semak belukar yang berdiameter < 5 cm, tumbuhan menjalar, rumput-rumputan yang dilakukan dengan mengambil bagian tanaman di atas permukaan tanah (tanpa akar) yang masuk ke dalam kuadran berukuran 1 m x 1 m.  Pengambilan contoh tumbuhan bawah dilakukan pada 6 (enam) kuadran dalam setiap plot pengukuran 20m x 40 m, yang kemudian  berat kering tumbuhan bawah pada plot yang diamati adalah nilai rata-rata dari ke enam kuadaran tersebut.
Pengukuran biomassa serasah dilakukan dalam kuadran yang sama dengan kuadran untuk pengukuran biomassa tumbuhan bawah, pengukuran biomassa serasah dilakukan dengan mengambil seluruh serasah yang masuk dalam kuadran tersebut, seperti halnya pengukuran biomassa tumbuhan bawah, pengukuran biomassa serasah juga dilakukan pada 6 (enam) kuadran dalam setiap plot pengukuran 20m x 40 m, yang kemudian  berat kering tumbuhan bawah pada plot yang diamati adalah nilai rata-rata dari ke enam kuadaran tersebut.
Berdasarkan Tabel 6. diketahui bahwa jenis Dyospiros pilosonthara B. memiliki biomassa dan simpanan karbon yang paling tinggi, sedangkan jenis tanaman yang memiliki biomassa dan simpanan karbon yang paling rendah adalah jenis  Litsea alboyana Vid. Hal ini disebabkan karena jumlah individu, diameter batang dan berat jenis yang berbeda dengan jenis yang lain.
Berdasarkan data pengukuran maka estimasi biomassa dan simpanan karbon pada lokasi penelitian diperoleh dari hasil penjumlahan biomassa tingkat pohon, pohon tidak bercabang, tumbuhan bawah, serasah, dan nekromassa
Berdasarkan hasil analisis, tingkat pohon memiliki biomassa rata-rata sebesar  687,12 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar 316,08 ton/ha, pohon  tidak bercabang  memiliki biomassa rata-rata 15,03 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar 6,91 ton/ha, tumbuhan bawah memiliki biomassa rata-rata 2,01 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar 0,93 ton/ha, serasah memiliki biomassa rata-rata sebesar 7,62 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar 3,5  ton/ha, dan nekromassa memiliki biomassa rata-rata sebesar 0,84 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar 0,22 ton/ha.
Berdasarkan hasil analisis diketahui estimasi jumlah karbon tersimpan di atas permukaan tanah pada Zona Pemanfaatan SMTP sebesar 327,64 ton/ha, dari nilai tersebut diketahui simpanan karbon seluruh areal zona pemanfaataan SMTP seluas 1.006 ha yaitu sebesar 329.605,84 ton.
Hasi pengukuran menujukkan jumlah biomassa tumbuhan bawah yang lebih rendah dibandingkan dengan jumlah biomassa serasah disebabkan karena kondisi lahan pada lokasi penelitian yang merupakan kawasan konservasi dengan berbagai jenis pohon yang besar dan penutupan tajuk yang rindang sehingga tumbuhan bawah hampir tidak memperoleh atau terkena oleh sinar matahari untuk pertumbuhannya. Jika dibandingkan dengan simpanan karbon pada lahan non hutan (kebun campuran) yang telah diteliti di Leuwiliang Jawa Barat, simpanan karbon pada hutan alam SMTP memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu sebesar 327,64 ton/ha sedangkan pada kebun campuran tersebut sebesar 20,33 ton/ha(Yuli, 2003). Hal ini sesuai dengan tulisan Adiriano, 2009 yang mengatakan bahwa hutan merupakan penyerap karbon terbesar dan memainkan peranan yang penting dalam siklus karbon global dan dapat menyimpan karbon sekurang-kurangnya 10 kali lebih besar dibandingkan dengan tipe vegetasi lain seperti padang rumput, tanaman semusim dan tundra (Adiriano, 2009 dalam Aditiyas, 2015).
Selain itu pada hutan alam misalnya Taman Hutan Raya (Tahura) Nipa-Nipa yang telah dilakukan penelitian terhadap jumlah karbon tersimpan maka diketahui hutan konservasi SMTP memiliki jumlah karbon tersimpan yang lebih tinggi, dimana estimasi total potensi cadangan karbon di atas permukaan tanah pada Hutan Alam Tahura Nipa-Nipa sebesar 202,64 ton/ha (Aditiyas, 2015), sedangkan pada hutan alam SMTP mencapai 327,64 ton/ha.
Berbagai faktor ikut mempengaruhi sehingga menimbulkan perbedaan tersebut misalnya besar diameter batang maupun berat jenis untuk setiap jenis tanaman, secara umum diameter batang pada SMTP lebih besar dibanding Tahura Nipa-nipa. Sebagaimana diketahui bahwa diameter batang dan berat jenis  berbanding lurus dengan simpanan karbon pada suatu pohon, artinya bahwa semakin besar diameter dan berat jenis maka semakin tinggi pula simpanan karbon suatu pohon.
                Selain ukuran diameter dan berat jenis, kondisi tanah juga secara tidak langsung mempengaruhi jumlah simpanan karbon pada suatu lahan. Penyimpanan karbon suatu lahan menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya baik, atau dengan kata lain jumlah karbon tersimpan di atas tanah (biomasa tanaman) ditentukan oleh besarnya jumlah karbon tersimpan di dalam tanah (bahan organik tanah). Bahan orgnik tanah itu sendiri terbentuk dari pelapukan nekromassa yang ada di lantai hutan.
Selain kondisi tanah, kondisi pohon dan tumbuhan yang terdapat di hutan Konservasi SMTP memberikan pengaruh terhadap jumlah simpanan karbon. Pada umumnya tegakan  yang terdapat di SMTP merupakan tegakan tua dengan diameter yang besar dan memiliki tajuk yang lebar dengan pengertian bahwa tanaman atau pohon berumur panjang yang tumbuh di hutan alam SMTP merupakan tempat penimbunan atau penyimpanan karbon yang jauh lebih besar dari pada Tahura Nipa-nipa. Oleh karena itu, hutan alami dengan keragaman jenis pepohonan berumur panjang dan seresah yang banyak merupakan gudang penyimpan karbon tertinggi (baik di atas maupun di dalam tanah).
Status kawasan SMTP yang termasuk dalam kawasan konservasi juga memberikan pengaruh terhadap jumlah karbon tersimpan. Hal ini karena kawasan konservasi memiliki sistem penjagaan yang lebih ketat jika dibandingkan dengan hutan alam yang lainnya sehingga akses masyarakat dianggap cukup rendah bahkan hampir tidak ada dalam hal pemanfaatan hasil hutan kayu (pohon) yang kita ketahui merupakan komponen penyimpanan karbon terbesar di atas permukaan tanah.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Simpanan karbon di atas permukaan tanah pada Zona Pemanfaatan  Kawasan Konservasi SMTP dengan luas 1.006 ha yaitu simpanan karbon tingkatan pohon sebesar 317.976,48 ton, pohon tidak bercabang sebesar 6.951,46 ton, tumbuhan bawah sebesar 935,58 ton, serasah sebesar 3.521 ton, dan nekromassa sebesar 221,32 ton. Secara keseluruhan estimasi total jumlah karbon tersimpan di atas permukaan tanah pada Zona Pemanfaatan SMTP sebesar 329.605,84 ton, sehingga diperoleh rata-rata karbon tersimpan sebesar 327,64 ton/ha.

6.2. Saran
Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jumlah kandungan karbon yang terdapat di atas permukaan tanah pada masing-masing zona di Kawasan Konservasi SMTP sehingga dapat diperoleh data estimasi simpanan karbon untuk keseluruhan Kawasan Konservasi SMTP.
DAFTAR PUSTAKA
Adinugroho.  W.C., Syahbani.  I.,  Rengku.  M.T.,  Arifin.  Z., Mukhaidil.  2009. Pendugaan Cadangan Karbon (C-stock) dalam Rangka Pemanfaatan Fungsi Hutan Sebagai Penyerap Karbon. http://www.Sith.itb.ac.id/profile/databuendah/publications/12%20yayaMAPinsurabaya.pdf.

Aditiyas. E.S. 2015. Estimasi Potensi Cadangan Karbon Di Atas Permukaan Tanah Pada Hutan Alam Tahura Nipa-Nipa. UHO. Kendari.

BKSDA Sultra, 2009. Suaka Margasatwa Tanjung Peropa  Melindungi Kantung-Kantung Air Hingga Masa Mendatang. WWF. Indonesia.

Dephut. 2007. Penyuluhan Kehutanan dan Kebun. Departemen Kehutanan, Bina Penyuluhan Kehutanan dan Kebun.  Jakarta.

Guntoro. H. 2008. Laporan Presentasi Kelompok Biomassa http://helmiguntoro.blogspot.com. [7 Nopember 2014].

Hadi.  M.  2007.  Pendugaan  Simpanan  Karbon  di  Atas  Permukaan  Lahan  pada Tegakan Jati (Textona grandis) di KPH Blitar, Perhutani Unit II Jawa Timur. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hairiah. K., 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon Tersimpan Di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. Word Agroforestry center. Bogor.

Hairiah. K., Ekadinata. A., Sari. R.R., Rahayu. S. 2011. Petunjuk praktis Pengukuran Cadangan Karbon dari Tingkat Lahan ke Bentang Lahan Edisi Kedua. Universitas Brawijaya (UB). Malang. Indonesia.

Kemenhut. 2007. Pedoman Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) pada Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan pada Hutan Produksi. Permenhut 2007.

Kurniawan. 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon tersimpan di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. World Agroforestry Center. Bogor.

Kurniawan. 2007. Global Warming Perspective Politics and Policy. Diskusi Publik Hizbut Tahrir Kota Depok.

Kusmana. C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Institut Pertanian. Bogor.

Linggi S, 2014. Potensi Simpanan Karbon Berdasarkan Ketinggian Tempat Tumbuh yang Berbeda pada Pola Agroforestry di Kecamatan Saadan Kabupaten Toraja Utara. Unhas. Makassar.


Marispatin. N., Ginoga. K., Pari. G., Dharmawan. W.S., Siregar. C.A., Wibowo. A., Puspasari. D.,  Utomo. A.S., Sakuntaladewi. N.,  Lugina. M., Indartik., Wulandari. W., Darmawan. S., Heryansah. I., Heriyanto. N.M., Siringoringo. H.H.,  Damayanti. R., Anggraeni. D., Krisnawati. H., Maryani. R., Apriyanto. D., Subekti. B. 2010. Cadangan karbon pada berbagai tipe hutan dan jenis tanaman di indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Bogor.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 150 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa.

Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 46 Tahun 2008.

Soerianegara.  I., Indrawan.  A.  1978.  Ekologi  Hutan  Indonesia.  Departemen Management Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soerianegara. I., Indrawan. A. 2002. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Susandi. A. 2008. Dampak Perubahan Iklim  terhadap  Ketinggian  Muka  Laut  di  Wilayah  Banjarmasin.  Jurnal Ekonomi Lingkungan Vol. 12/No. 2.

Sutrisno. F. 2010. Aplikasi Penggunaan Satelit Penginderaan Jauh di Indonesia pada Pengendalian Masalah Lingkungan. http://fadlysutrisno.wordpress.com/2010/07/15/Aplikasi penggunaan-satelit-penginderaan-jauh-di-Indonesia- pada-pengendalian-masalah-lingkungan.

Undang-undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.

Wahyu. 2010. Jasa Hutan Sebagai Penyerap Karbon. http://www.facebook.com. [7 Nopember 2014].

Winarto. B. 2012. Kamus Rimbawan (edisi revisi). Kementerian kehutanan,  Forests and climate change programme (FORCLIME).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar