“ESTIMASI
SIMPANAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN TANAH PADA KAWASAN HUTAN KONSERVASI SUAKA MARGASATWA TANJUNG PEROPA KABUPATEN
KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA”
Estimation
of Carbon Storage in Upper
Surface Soil in Forest Area Wildlife Conservation Cape Peropa (SMTP) South Konawe,
Southeast Sulawesi
1. Asriadi. AR
2. Sitti Marwah
3. Alamsyah Flamin
JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN DAN ILMU LINGKUNGAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
ABSTRACT
This study
aimed to estimate the amount of carbon stored above ground in conservation
areas SMTP. This study took place in December 2014 - April 2015. Determination
of the location area of research carried out by using purposive sampling
method. The method used in this research is to use the method of estimation
based on allometric equations. Tree biomass measurements performed by non
desctructive (do not damage the plant). The results of the study of carbon
deposits on the surface of the ground at the SMTP Use Zone Conservation Area
covers an area of 1,006 ha of carbon deposits amounting to 317,976.48 tons
tree level, not branching tree of 6951.46 tons, down by 935.58 tons plants,
litter amounted to 3,521 tons , and nekromassa of 221.32 tons. Overall
estimates of the total amount of carbon stored above ground level on the
SMTP Use Zone of 329,605.84 carbon ton.
Keywords:
Biomass, Carbon, Natural Forest
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia memiliki hamparan hutan
yang luas serta berbagai potensi yang terkandung di dalamnya baik hayati maupun
non hayati, dengan luas hutan Indonesia sebesar 99,6 juta hektar atau 52,3%
luas wilayahnya (Statistik Kehutanan Indonesia Kemenhut, 2012) , sehingga hutan Indonesia menjadi salah satu
paru-paru dunia yang sangat penting peranannya bagi kehidupan isi bumi. Secara
umum, fungsi hutan dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu fungsi ekonomi,
fungsi ekologi, dan fungsi sosial. Namun pada kenyataannya saat ini pengelolaan
dan pemanfaatan hutan sering dilakukan tanpa mengacu pada ketiga fungsi
tersebut, sehingga terkadang salah satu fungsinya terabaikan. Ketiga fungsi
pokok tersebut diatas dapat terpenuhi melalui pemanfaatan hasil hutan
diantaranya hasil hutan kayu, non kayu, dan jasa lingkungan, dimana manfaat
tersebut dapat berupa manfaaat langsung maupun tidak langsung.
Salah
satu kontribusi hutan yang paling besar manfaatnya
bagi kehidupan yaitu kemampuannya dalam menghasilkan oksigen dan menyerap
karbon. Hutan alam merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi bila
dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan (SPL) lainnya . Oleh karena itu, hutan alam dengan keragaman
jenis pepohonan berumur panjang dan serasah yang banyak merupakan gudang penyimpan karbon tertinggi. Bila hutan diubah fungsinya menjadi lahan-lahan pertanian, perkebunan atau ladang
penggembalaan maka jumlah karbon tersimpan akan merosot. Jumlah karbon tersimpan antar lahan tersebut berbeda-beda, tergantung pada
keragaman dan kerapatan tumbuhan yang ada.
Hutan alam memiliki jumlah karbon tersimpan tertinggi sekitar
497 Mg ha-1 dibandingkan sistem penggunaan lahan lainnya, namun gangguan hutan alam menjadi hutan
sekunder menyebabkan kehilangan sekitar 250 Mg C ha-1. Kehilanggan cadangan C terbesar di atas permukaan
tanah dapat
terjadi karena hilangnya vegetasi. Biomasa hutan berperan penting dalam siklus biogeokimia terutama
dalam siklus karbon. Dari keseluruhan karbon hutan, sekitar 50% diantaranya tersimpan
dalam vegetasi hutan. Sebagai konsekuensi, jika terjadi kerusakan hutan, kebakaran, pembalakan
dan sebagainya akan menambah jumlah karbon di atmosfer (Hairiah K., et al, 2007).
Salah satu hutan alam yakni Suaka Margasatwa
Tanjung Peropa (SMTP) yang terletak di
Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Latar belakang
penunjukannya sebagai kawasan konservasi adalah karena
kelompok hutan Tajung Peropa merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropika
dengan tipe vegetasi hutan non dipterocarpaceae,
hutan belukar, hutan pantai dan hutan bakau yang merupakan habitat jenis
tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi (BKSDA Sultra,
2009). Keberlangsungan hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa tersebut
membutuhkan kondisi lingkungan yang optimal seperti suhu, kelembaban, kondisi
tanah, dan sebagainya sehingga kawasan hutan SMTP
memiliki peranan penting dalam mewujudkan hal tersebut. Inforrmasi mengenai jumlah biomassa
dan kandungan karbon yang tersimpan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai
pentingnya fungsi ekologi dari Kawasan Konservasi SMTP sebagai kawasan hutan.
Berdasarkan
uraian di atas maka perlu dilakukannya
suatu penelitan untuk menghitung besarnya karbon
yang tersimpan di atas
permukaan tanah pada Kawasan Konservasi SMTP sebagai kawasan Hutan.
1.2. Perumusan
Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini yaitu berapa besar karbon yang
tersimpan di atas permukaan
tanah pada Kawasan Konservasi SMTP?
1.3. Kerangka
Pikir
Hutan alam merupakan penyimpanan C tertinggi dibandingkan
dengan SPL pertanian,
dikarenakan keragaman pohon yang tinggi (Hairiah, 2007). Hutan merupakan sumber daya alam yang
sangat penting dan bermanfaat bagi hidup
dan kehidupan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Manfaat langsung dari keberadaan hutan di antaranya adalah kayu, hasil hutan bukan
kayu dan satwa. Sedangkan manfaat tidak langsungnya adalah berupa
jasa lingkungan, baik sebagai pengatur tata air, fungsi estetika, maupun sebagai
penyedia oksigen dan penyerap karbon.
Salah satu hutan alam yakni Suaka Margasatwa
Tanjung Peropa yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi
Sulawesi Tenggara. Hutan ini menjadi habitat berbagai tumbuhan dan satwa,
dimana keberlangsungan hidupnya membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung
misalnya suhu, kondisi tanah, kelembaban dan sebagainya sehingga dapat
dikatakan bahwa hutan ini memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan
karbon.
Mengukur
jumlah C tersimpan di hutan dilakukan melalui tiga tahap pengukuran yaitu (1)
Mengukur biomasa semua tanaman nekromasa dan serasah yang ada pada suatu lahan
(2) Mengukur konsentrasi C tanaman di laboratorium (3) Menghitung kandungan C
yang disimpan pada suatu lahan. Pengukuran dapat dilakukan tanpa melibatkan perusakan (misalnya menebang
pohon), tetapi bisa pula harus merusak tumbuhan, terutama pada tumbuhan bawah. Menghitung biomassa pohon menggunakan persamaan allometrik yang telah
dikembangkan oleh peneliti peneliti sebelumnya.
|
Tabel
2.Peralatan yang akan digunakan dalam penelitian pendugaan
karbonadangan karbon hutan di atas permukaan tanah.
|
||
|
No
|
Nama Alat
|
Kegunaan
|
|
1
|
Bingkai kuadran
|
Sebagai titik contoh untuk pengambilan tumbuhan bawah dan Serasah
|
|
2
|
GPS
|
Mengukur ketinggian dan koordinat
|
|
3
|
Kantong plastik
|
Tempat penyimpanan sampel spesimen kayu dan Serasah
|
|
4
|
Kamera
|
Dokumentasi
|
|
5
|
Kantong sampel
|
Media sampel pada saat di oven
|
|
6
|
Meteran rol (panjang 30 m)
|
Menentukan dan mengukur luas petak/plot pengukuran
|
|
7
|
Oven
|
Mengeringkan sampel
|
|
8
|
Pita meter (panjang 1,5 m)
|
Mengukur keliling pohon
|
|
9
|
Parang tebas
|
Memotong
|
|
10
|
Peta kawasan SMTP
|
Mengambarkan lokasi penelitian
|
|
11
|
Peralatan tulis (ATK)
|
Mencatat hasil pengukuran
|
|
12
|
Tali berwarna (tali rapia)
|
Membuat plot sampel
|
|
13
|
Timbangan (kapasitas 1 kg, keakuratan 1 gr)
|
Mengukur BB dan BK sampel
|
Berdasarkan keberadaannya di alam biomassa dapat
dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass) dan biomassa di
bawah permukaan tanah (bellow ground
biomass). Biomassa di atas permukaan tanah adalah berat
bahan unsur organik per unit area yang ada dalam beberapa komponen ekosistem
pada waktu tertentu (Indrawan, 1999 dalam Aditiyas, 2015). Hairiah et al., (2007) menyatakan biomassa di atas permukaan tanah terdiri
dari biomassa pohon, biomassa tumbuhan bawah, nekromasa
dan serasah.
1.4. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk menduga
(estimasi) besarnya karbon yang tersimpan di atas permukaan
tanah pada Kawasan Konservasi SMTP.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai acuan data simpanan karbon bagi pemerintah, swasta,
instansi terkait dan peneliti selanjutnya, mengingat masih terbatasnya sumber
data tentang cadangan karbon, khususnya untuk Kawasan Konservasi SMTP.
III. METODE
PENELITIAN
3.1. Waktu
dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 - April 2015
bertempat di Kawasan Hutan Konservasi
Suaka Margasatwa Tanjung Peropa Kabupaten Konawe Selatan, pengolahan
data lanjutan dilakukan di Laboratorium Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan
dan Ilmu Lingkungan, Universitas
Halu Oleo, Kendari.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan-bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesimen tumbuhan yang
digunakan untuk identifikasi dan menghitung Berat jenis (Bj).
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini disajikan melalui Tabel 2.
3.3. Jenis
Data
Jenis data terdiri dari:
1.
Data Primer: Observasi
langsung ke lapangan yaitu mengukur diameter pohon, menentukan jenis pohon,
serasah dan Nekromasa
2.
Data Sekunder: kondisi umum
lokasi penelitian meliputi luas dan lokasi administratif, aksesibilitas, serta kondisi biofisik lingkungan.
3.4. Variabel
Penelitian
Pada penelitian ini karbon yang diukur adalah karbon yang berada di atas permukaan tanah pada Blok Pemanfaatan Kawasan
Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, yang berupa:
1.
Biomassa
Pohon. Proporsi terbesar penyimpanan C di daratan umumnya terdapat pada
komponen pepohonan. Untuk mengurangi tindakan perusakan selama pengukuran, biomassa pohon dapat diestimasi dengan
menggunakan persamaan alometrik yang didasarkan pada pengukuran diameter batang.
2.
Biomassa
tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah meliputi semak belukar yang berdiameter batang
< 5 cm, tumbuhan menjalar. Estimasi biomasa tumbuhan bawah
dilakukan dengan mengambil bagian tanaman (melibatkan perusakan)
3.
Nekromasa.
Batang pohon mati baik yang masih tegak atau telah tumbang dan tergeletak di
permukaan tanah, yang merupakan komponen penting dari C dan harus diukur pula
agar diperloleh estimasi penyimpanan C yang akurat
4.
Serasah.
Serasah meliputi bagian tanaman yang telah gugur berupa daun dan
ranting-ranting yang terletak di permukaan tanah
Untuk mendapatkan data mengenai parameter tersebut
maka variabel yang diukur dalam penelitian
ini disajikan melalui
Tabel 3.
|
Tabel
3.Variabel yang diukur dalam penelitian Estimasi Simpanan
Karbon di Atas Permukaan Tanah pada Kawasan
Hutan Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa.
|
|||
|
No
|
Variabel yang diukur
|
Parameter
|
Kegunaan
|
|
1
|
Diameter
batang
|
Diameter setinggi dada (diameter at breast height: 1,3 m)
|
Mengukur volume pohon/kayu dan
volume Nekromasa berkayu
|
|
2
|
Tinggi
pohon
|
Tinggi
total tanaman untuk jenis palem dan pandan
|
Menghitung volume pohon (jika pohon
tidak bercabang)
|
|
3
|
Berat
basah
|
Berat
sampel saat diambil dari lokasi
|
Menentukan
berat sampel awal/berat basah (BB)
|
|
4
|
Berat
kering
|
Berat sampel setelah dikeringkan
dalam oven selama 48 jam pada suhu 80 oC
|
Menentukan berat sampel setelah
dikeringkan (BK)
|
|
5
|
Berat
jenis
|
Berat
jenis kayu (Bj) per satu satuan volume (gr/cm3)
|
Mengetahui berat jenis pohon/kayu
|
3.5. Teknik
Penarikan Sampel
Penentuan areal plot pada lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Purposive
Sampling. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi plot penelitian secara sengaja
yang dianggap Representatif (Kusmana, 1997). Dengan didasarkan atas
survei sebelumnya dan informasi yang di dapat dari pihak pengelola Kawasan
Hutan Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa.
Berdasarkan
uraian di atas maka penarikan sampel didasarkan pada ketinggian tempat sehingga diperoleh 3 lokasi
yaitu atas, tengah, dan bawah. Masing-masing lokasi tersebut terdiri dari 3
plot pengamatan sehingga jumlah plot secara keseluruhan yaitu 9 plot (7200 m2). Terdapat perbedaan potensi karbon tersimpan pada
perbedaan ketinggian (Linggi, 2014).
Pengambilan data dilakukan dengan
membuat plot berukuran 20 m x 40 m (800
m2) untuk tingkat pohon (diameter >5 cm), menentukan minimal enam sub plot pada setiap plot untuk pengambilan contoh tumbuhan
bawah dan serasah, setiap sub plot berukuran 1
m x 1 m = 1
m2 (Hairiah K, 2007), dimana pada penelitian ini
penempatan sub plot dilakukan secara sistematis. Pengambilan data pohon
meliputi nama jenis, diameter setinggi dada dewasa (1,3 m) dan tinggi pohon.
3.6. Teknik
Pengumpulan Data
1.
Pengukuran
biomassa untuk tingkat pohon
Pengukuran
biomassa pohon dilakukan dengan cara non desctructive (tidak merusak bagian
tanaman). Membagi Sub Plot menjadi dua bagian dengan memasang tali di bagian
tengah sehingga ada Sub-Sub Plot, masing-masing berukuran 10
m x 40 m, kemudian mencatat nama setiap pohon dan mengukur diameter batang
setinggi dada (dbh = diameter at breast
height = 1,3 m dari permukaan tanah) semua pohon yang masuk dalam Sub-Sub
Plot sebelah kiri dan kanan. Dilakukan pengukuran dbh hanya pada pohon berdiameter > 5 cm,
pohon dengan dbh <
5 cm diklasifikasikan sebagai tumbuhan bawah.
Bila
permukaan tanah di lapangan dan bentuk pohon tidak rata, maka penentuan titik
pengukuran dbh pohon dapat di lihat
pada Lampiran 6.
Melilitkan pita pengukur pada batang
pohon, dengan posisi pita harus sejajar untuk semua arah (Lampiran
7a), sehingga data yang diperoleh adalah
lingkar/lilit batang (keliling batang = 2 π r), bila diameter pohon berukuran
antara 5 – 20 cm, digunakan jangka sorong (caliper)
untuk mengukur dbh (Lampiran
7b), data yang diperoleh adalah diameter
pohon. Mencatat lilit batang atau diameter batang dari setiap pohon yang
diamati pada blangko pengamatan. Khusus
untuk pohon-pohon yang batangnya rendah dan bercabang banyak, maka semua
diameter cabang harus di ukur. Jika
pada Sub Plot terdapat tanaman tidak berkeping dua (dycotyle) seperti bambu, semua harus di ukur diameter dan tinggi
untuk masing-masing individu dalam setiap rumpun tanaman. Demikian pula jika terdapat pohon tidak
bercabang (jenis palem).
Jika
dijumpai beberapa penyimpangan kondisi percabangan pohon atau permukaan batang
pohon yang bergelombang atau adanya banir pohon, maka cara penentuan dbh dapat di lakukan seperti pada
Lampiran 8 dan Lampiran 9.
Bila terdapat tunggul bekas tebangan yang masih hidup dengan tinggi > 50 cm
dan diameter > 5 cm, pengukuran dilakukan dengan mengukur diameter batang
dan tingginya (Lampiran 10). Menetapkan berat jenis (Bj) kayu dari
masing-masing jenis pohon dengan cara memotong kayu dari salah satu cabang,
mengukur panjang, diameter dan menimbang berat basahnya.
Memasukan
dalam oven pada suhu 80 °C selama 48 jam
dan menimbang berat keringnya, kemudian menghitung volume dan berat jenis (Bj)
kayu dengan rumus sebagai
berikut:
Volume
(cm3) = π R2 T
Dimana:
R = jari-jari potongan kayu = ½ diameter (cm); T = Panjang kayu (cm)
BJ
(g cm-3) =
Semua data yang diperoleh dari pengukuran dbh (pohon hidup) dimasukan ke dalam
blangko pengamatan, kemudian data tersebut dibuatkan tabulasi data dalam
program Microsoft Excell untuk
penghitungan lebih lanjut. Menghitung
biomassa pohon menggunakan persamaan allometrik yang telah dikembangkan oleh
peneliti peneliti sebelumnya (Tabel 3), kemudian menjumlahkan
biomassa semua pohon yang ada pada suatu lahan, sehingga diperoleh total
biomassa pohon per lahan (kg/luasan lahan)
2.
Pengukuran
biomassa tumbuhan bawah
Pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah harus
dilakukan dengan metode descructive (merusak
bagian tanaman), tumbuhan bawah yang diambil sebagai contoh adalah semua
tumbuhan hidup berupa pohon yang berdiameter < 5 cm, herba dan
rumput-rumputan. Langkah pertama yaitu dengan
menempatkan kuadran bambu (Lampiran 11),
kayu atau aluminium di dalam Plot (20
m x 40 m), memotong semua tumbuhan bawah (pohon
yang berdiameter < 5 cm, herba dan rumput-rumputan) yang terdapat di dalam
kuadran, pisahkan antara daun dan batang, sampel kemudian dimasukan ke dalam
kantong kertas beri label sesuai dengan kode titik contohnya.
Untuk memudahkan penanganan, ikat semua kantong
kertas berisi tumbuhan bawah yang diambil dari satu plot, masukan dalam karung
besar untuk mempermudah pengangkutan ke kamp/laboratorium. Timbang berat basah daun atau batang,
mencatat beratnya dalam blangko. Ambil
Sub-contoh tanaman dari masing-masing biomassa daun dan bantang sekitar 100-300
gr. Bila biomassa contoh yang di dapatkan hanya sedikit (< 100 gr), maka
timbang semua dan jadikan sebagai Sub-contoh. Keringkan sub-contoh biomassa tanaman yang telah
diambil dalam oven pada suhu 80 °C selama 2 x 24 jam, timbang berat
keringnya dan catat dalam blangko pengamatan.
3.
Pengukuran
Nekromasa yang ada di Permukaan Tanah
Mengukur nekromasa
dilakukan dengan mengambil contoh nekromasa (bagian tanaman mati) pada
permukaan tanah yang masuk dalam plot (20
m x 40 m).
a.
Nekromasa
berkayu: pohon mati yang masih berdiri maupun yang roboh, tunggul-tunggul
tanaman, cabang dan ranting yang masih utuh. Pada pohon yang mati berdiri,
diameter di ukur pada 1,3 m
|
Tabel 4. Persamaan Allometrik yang digunakan untuk
pendugaan biomasa pada Kawasan Hutan
Konservasi Suaka Margasatwa Tanjung Peropa.
|
||
|
Jenis pohon
|
Estimasi biomasa pohon (Kg/pohon)
|
Sumber
|
|
Pohon bercabang
|
BK = 0.11 r D2.62
|
Ketterings, 2001
|
|
Pohon tidak bercabang
|
BK = π r H D2/40
|
Hairiah et
al, 1999
|
b.
di
atas permukaan tanah. Pada pohon yang mati rebah baik cabang, ranting dan
tunggul, pengukuran diameter dilakukan pada kedua ujungnya, mencatat dalam
blangko pengukuran, kemudian mengambil sedikit contoh kayu
ukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm, timbang berat basahnya, masukan dalam oven dengan
suhu 80 °C selama 48 jam untuk menghitung Bj nya.
c.
Nekromasa
tidak berkayu: menggunakan kuadran kayu/bambu/aluminium, kemudian mengambil
contoh serasah kasar dan serasah halus
langsung setelah pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah, melakukan pada
titik contoh dan luas kuadran yang sama dengan yang dipakai untuk pengambilan
contoh biomassa tumbuhan bawah. Mengambil semua sisa-sisa bagian tanaman mati,
daun-daun dan ranting-ranting gugur yang terdapat dalam tiap-tiap kuadran,
memasukkan dalam kantong kertas dan memberi label
d.
sesuai
dengan kote titik contohnya. Untuk memudahkan penanganan, ikat semua kantong
kertas berisi serasah yang diambil dari satu plot.
Masukkan dalam karung besar untuk mempermudah pengangkutan ke
kamp/laboratorium. Mengeringkan semua Serasah di bawah sinar matahari, bila
sudah kering di ayak agar tanah yang menempel dalam Serasah rontok dan terpisah
dengan Serasah. Menimbang contoh Serasah kering matahari (gr per 0,25 cm2).
Mengambil sub contoh serasah sebanyak 100-300 gr untuk
dikeringkan dalam oven pada suhu 80 °C selama 48 jam. Bila biomassa contoh yang
di dapatkan hanya sedikit (< 100 gr), maka timbang semuanya dan jadikan
sebagai sub contoh. Menimbang berat keringnya dan mencatat
dalam blangko pengamatan. Estimasi BK Serasah kasar per kuadran melalui
perhitungan sebagai berikut:
total
BK (gr) =
dimana,
BK = berat kering, dan BB = berat basah (Hairiah, K et al, 2009).
3.7. Analisis
Data
Pengolahan
dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
software Microsoft Excel 2010. Semua sampel yang telah diambil diolah
dilaboratorium dan dianalisis dengan menggunakan
beberapa persamaan:
1.
Total
berat kering (biomasa) pada pohon
Untuk menghitung biomassa pada tanaman
digunakan persamaan allometrik umum bagi pohon. Persamaan allometrik yang digunakan dalam pendugaan
biomassa pada penelitian ini disajikan pada Tabel 4. berikut:
Keterangan: BK = berat kering; D = diameter pohon, cm; H = Tinggi pohon, cm; r = BJ kayu, g cm-3
Sumber:
Hairiah, 2007.
2.
Total
berat kering (biomasa) pada tanaman bawah
BK
=
Dimana BK = berat kering dan BB =
berat basah Sumber: Hairiah, 2007.
3.
Total
berat kering (biomasa) pada nekromasa berkayu
Hitung Diameter Nekromasa (D) dengan rumus:
D
=
Untuk nekromasa berkayu dihitung dengan menggunakan rumus allometrik seperti
sebagai berikut:
BK
(kg/nekromasa) = π r H D2/40
Dimana H = panjang/tinggi nekromasa
(cm), D = diameter nekromasa (cm), r = BJ kayu (gr cm-3). BJ
kayu mati diperkirakan 0,35 gr cm-3 (Hairiah, 2007).
4.
Total
berat kering
pada nekromasa
yang tidak berkayu
total
BK (gr) =
dimana,
BK = berat kering, dan BB = berat basah
(Hairiah,
2007).
5.
Biomasa
per satuan luas
biomasa
per satuan luas =
|
(Hairiah,
2007).
|
Semua data (Total) biomasa dan nekromasa per satuan lahan dimasukan pada tabel estimasi total penyimpanan karbon bagian atas tanah
(Mg ha-1), yang merupakan estimasi akhir jumlah C tersimpan per
lahan, dimana konsentrasi C dalam bahan organik biasannya sekitar 46%, oleh
karena itu estimasi jumlah C tersimpan per komponen dapat dihitung dengan mengalikan total berat masannya
dengan konsentrasi C, sebagai berikut :
|
Berat kering biomasa atau Nekromasa
(kg ha-1) x 0,46
|
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
Berdasarkan pengukuran, diperoleh 30 jenis pohon
bercabang dalam plot pengukuran. Jenis pohon bercabang di Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP disajikan pada Tabel 5.
|
Tabel 5. Hasil
Analisis Biomassa dan Karbon Tersimpan Berdasarkan Jenis Pohon Pohon
Bercabang di SMTP 2015
|
|||||||
|
No
|
Jenis
|
Berat
Jenis
|
Jumlah Pohon/ha
|
Diameter Rata-rata
|
Biomassa (kg/Pohon)
|
Biomassa (ton/ha)
|
Karbon (ton/ha)
|
|
1
|
Ailanthus integrifolia L.
|
0,42
|
14
|
33,66
|
463,19
|
6,48
|
2,98
|
|
2
|
Albizia lebbeck B.
|
0,69
|
4
|
29,51
|
539,05
|
2,16
|
0,99
|
|
3
|
Alstonia scholaris
|
0,38
|
4
|
55,10
|
1523,71
|
6,09
|
2,80
|
|
4
|
Anthocephalus cadamba
|
0,42
|
4
|
48,62
|
1213,66
|
5,06
|
2,33
|
|
5
|
Artocarpus elasticus R.
|
0,44
|
19
|
83,35
|
5219,12
|
101,48
|
46,68
|
|
6
|
Baccauroa
|
0,84
|
6
|
55,73
|
3471,17
|
19,28
|
8,87
|
|
7
|
Canarium maluensa L.
|
0,66
|
4
|
18,79
|
157,98
|
0,66
|
0,30
|
|
8
|
Diplospora malaccensis
|
0,92
|
8
|
37,58
|
1353,80
|
11,28
|
5,19
|
|
9
|
Dyospiros celebica
|
1,09
|
38
|
28,80
|
799,07
|
29,97
|
13,78
|
|
10
|
Dyospiros pilosonthara B.
|
0,84
|
101
|
37,79
|
1254,59
|
127,20
|
58,51
|
|
11
|
Eugena
|
0,78
|
44
|
10,87
|
44,48
|
1,98
|
0,91
|
|
12
|
Evoidia celebica Hats
|
0,42
|
6
|
24,04
|
191,83
|
1,07
|
0,49
|
|
13
|
Fragrarea fragrans
|
0,81
|
3
|
39,01
|
1314,74
|
3,65
|
1,68
|
|
14
|
Hommalium foetidum B.
|
0,91
|
3
|
18,95
|
222,70
|
0,62
|
0,28
|
|
15
|
Intsia bijuga
|
0,84
|
1
|
57,01
|
3682,91
|
5,12
|
2,35
|
|
16
|
Kalappia celebica K.
|
0,64
|
3
|
55,73
|
2644,70
|
7,35
|
3,38
|
|
17
|
keycea sp.
|
0,97
|
1
|
35,67
|
1244,97
|
1,73
|
0,80
|
|
18
|
Litsea alboyana Vid
|
0,82
|
1
|
10,83
|
46,32
|
0,05
|
0,02
|
|
19
|
Metrosideros petiolata
|
1,15
|
31
|
39,55
|
1934,49
|
59,11
|
27,19
|
|
20
|
Nauclea orientalis
|
0,58
|
4
|
34,39
|
676,76
|
2,82
|
1,30
|
|
21
|
Parinari corimbosa Miq.
|
0,96
|
13
|
37,72
|
1426,65
|
17,83
|
8,20
|
|
22
|
Planchonia valida BL
|
0,62
|
32
|
34,44
|
725,73
|
23,18
|
10,66
|
|
23
|
Podocarpus blumi Endi BL
|
0,63
|
4
|
29,51
|
492,17
|
2,05
|
0,94
|
|
24
|
Pometia pinnata
|
0,77
|
39
|
35,43
|
971,03
|
37,76
|
17,37
|
|
25
|
Pouteria obovata Baehni
|
1,07
|
1
|
16,56
|
183,97
|
0,18
|
0,08
|
|
26
|
Pterospermum celebicum
|
0,44
|
24
|
24,93
|
221,03
|
5,22
|
2,40
|
|
27
|
Shorea koordersii Brandis
|
0,5
|
15
|
30,86
|
439,22
|
6,71
|
3,09
|
|
28
|
Sloetida elangata Kds
|
1,01
|
14
|
22,74
|
398,52
|
5,53
|
2,55
|
|
29
|
Spiracopsis celebica BL
|
0,49
|
10
|
20,79
|
152,92
|
1,49
|
0,68
|
|
30
|
Tristania
|
1,12
|
1
|
23,89
|
502,71
|
0,50
|
0,23
|
|
Jumlah
|
452
|
33.513,19
|
493,61
|
227,03
|
|||
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2015
|
Tabel 6. Biomassa dan
Karbon Tersimpan di Setiap Jenis pada Pohon Tidak Bercabang di SMTP Tahun
2015
|
|||||||
|
No
|
Jenis
|
Jumlah Pohon/ha
|
Diameter
Rata-rata (cm)
|
Biomassa (kg/Pohon)
|
Biomassa (ton/ha)
|
Karbon (ton/ha)
|
|
|
1
|
Aren (Arenga pinnata)
|
67
|
25,71
|
1105,46
|
74,07
|
34,07
|
|
|
2
|
Palem
(Ptychosperma macarthurii)
|
108
|
8,77
|
283,51
|
30,62
|
14,08
|
|
|
3
|
Pandan
(Pandanus tectorius)
|
39
|
7,72
|
216,08
|
8,43
|
3,88
|
|
Sumber: Data Primer Diolah
Tahun 2015
Berdasarkan pengukuran, biomassa dan karbon tersimpan berdasarkan jenis pohon tidak bercabang di zona
pemanfaatan kawasan konservasi SMTP disajikan pada Tabel 6.
Berdasarkan pengukuran, biomassa dan karbon tersimpan pada pohon bercabang dan pohon tidak
bercabang di
Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP disajikan pada Tabel 7.
Berdasarkan analisis, diperoleh biomassa dan karbon tersimpan pada tingkat tumbuhan bawah, serasah, dan
nekromassa di
Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP disajikan pada Tabel 8.
Secara keseluruhan total biomassa dan karbon
tersimpan di atas permukaan tanah pada
Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP disajikan pada Tabel 9.
|
Tabel 7. Total Biomassa dan Karbon Tersimpan pada Pohon Bercabang dan Pohon Tidak Becabang di SMTP Tahun
2015
|
|||||
|
No
|
Tingkat
|
Jumlah Pohon/ha
|
Biomassa (kg/pohon)
|
Biomassa (ton/ha)
|
Karbon (ton/ha)
|
|
1
|
Pohon Bercabang
|
450
|
1526,94
|
687,12
|
316,08
|
|
2
|
Pohon Tidak Bercabang
|
213
|
70,55
|
15,03
|
6,91
|
Sumber: Data Primer Diolah
Tahun 2015
Tabel 8. Biomassa dan Karbon Tersimpan pada Tingkat Tumbuhan Bawah, Serasah, dan Nekromassa di SMTP
Tahun 2015
|
No
|
Tingkat
|
Biomassa (ton/ha)
|
Karbon (ton/ha)
|
|
1
|
Tumbuhan Bawah
|
2,01
|
0,93
|
|
2
|
Serasah
|
7,62
|
3,50
|
|
3
|
Nekromassa
|
0,48
|
0,22
|
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2015.
Tabel 9. Total Biomassa dan
Karbon Tersimpan pada Seluruh Areal SMTP Tahun
2015
|
No
|
Tingkat
|
Biomassa (ton/ha)
|
Karbon (ton/ha)
|
Karbon
(ton/1006 ha)
|
|
1
|
Pohon Bercabang
|
687,12
|
316,08
|
317.976,48
|
|
2
|
Pohon Tidak Bercabang
|
15,03
|
6,91
|
6.951,46
|
|
3
|
Tumbuhan Bawah
|
2,01
|
0,93
|
935,58
|
|
4
|
Serasah
|
7,62
|
3,5
|
3521
|
|
5
|
Nekromassa
|
0,48
|
0,22
|
221,32
|
|
Total
|
712,26
|
327,64
|
329.605,84
|
|
Sumber:
Data Primer Diolah Tahun 2015
5.2. Pembahasan
Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan
bermanfaat bagi hidup dan kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Manfaat langsung dari keberadaan hutan di antaranya adalah kayu, hasil hutan
bukan kayu dan satwa. Sedangkan manfaat tidak langsungnya adalah berupa jasa
lingkungan, baik sebagai pengatur tata air, fungsi estetika, maupun sebagai
penyedia oksigen dan penyerap karbon. Penyerapan karbon sendiri terjadi
didasarkan atas proses kimiawi dalam aktivitas fotosintesis tumbuhan yang
menyerap CO2 dari
atmosfer dan air dari tanah menghasilkan oksigen dan karbohidrat yang
selanjutnya akan berakumulasi mejadi selulosa dan lignin sebagai cadangan
karbon. Kerusakan hutan, perubahan iklim dan pemanasan global, menyebabkan
manfaat tidak langsung dari hutan berkurang, yaitu karena hutan merupakan
penyerap karbon terbesar dan memainkan peranan yang penting dalam siklus karbon
global dan dapat menyimpan karbon sekurang kurangnya 10 kali lebih besar
dibandingkan dengan tipe vegetasi lain seperti padang rumput, tanaman semusim
dan tundra (Holdgate, 1995 dalam Adiriono, 2009).
Karbon
merupakan salah satu unsur utama pembentuk bahan organik termasuk makhluk
hidup. Hampir
setengah dari organisme hidup merupakan karbon. Karenanya
secara alami karbon banyak tersimpan di bumi (darat dan laut) dari pada di
atmosfir. Karbon
tersimpan dalam daratan bumi dalam bentuk makhluk hidup (tumbuhan dan hewan),
bahan organik mati ataupun sediment seperti fosil tumbuhan dan hewan. Sebagian besar
jumlah karbon yang berasal dari makhluk hidup bersumber dari hutan.
Kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon tidak sama
baik di hutan alam, hutan tanaman, hutan payau, hutan rawa maupun di hutan
rakyat tergantung pada jenis pohon, tipe tanah dan topografi, dengan kata lain hutan alam memiliki
kemampuan menyimpan karbon lebih tinggi dibandingkan dengan sistem penggunaan
lahan lainnya. Biomassa
pohon merupakan salah satu sumber karbon yang sangat penting pada ekosistem
hutan, karena sebagian besar karbon hutan berasal dari biomassa pohon. Pohon merupakan proporsi terbesar penyimpanan
C di daratan.
Pengukuran biomassa pohon pada penelitian ini dilakukan dengan cara tidak langsung yaitu menggunakan persamaan allometrik yang
didasarkan pada pengukuran diameter batang, berdasarkan pengukuran diperoleh
30 jenis pohon bercabang. Pengukuran biomassa
pohon tidak bercabang dilakukan seperti pada pengukuran biomassa pohon
bercabang, berdasarkan
pengukuran diperoleh 3 jenis pohon tidak bercabang yang masuk dalam plot
pengukuran yaitu jenis palem,
rotan, dan pandan.
Berbeda
dengan pengukuran biomassa pohon bercabang dan pohon tidak bercabang,
pengukuran biomassa tumbuhan bawah dilakukan
dengan metode destructive sampling atau
melibatkan perusakan tanaman. Tumbuhan
bawah meliputi semak belukar yang berdiameter < 5 cm, tumbuhan menjalar,
rumput-rumputan yang dilakukan dengan mengambil bagian tanaman di atas permukaan tanah (tanpa akar)
yang masuk ke dalam kuadran berukuran
1
m x 1
m. Pengambilan
contoh tumbuhan bawah dilakukan pada 6 (enam) kuadran dalam setiap plot pengukuran
20m x 40 m, yang kemudian berat kering tumbuhan bawah pada plot yang
diamati adalah nilai rata-rata dari ke enam kuadaran tersebut.
Pengukuran
biomassa serasah dilakukan dalam kuadran yang sama dengan kuadran untuk
pengukuran biomassa tumbuhan bawah, pengukuran biomassa serasah dilakukan
dengan mengambil seluruh serasah yang masuk dalam kuadran tersebut, seperti
halnya pengukuran biomassa tumbuhan bawah, pengukuran biomassa serasah juga
dilakukan pada 6 (enam) kuadran dalam setiap plot pengukuran
20m x 40 m, yang kemudian berat kering tumbuhan bawah pada plot yang
diamati adalah nilai rata-rata dari ke enam kuadaran tersebut.
Berdasarkan Tabel 6. diketahui bahwa jenis Dyospiros pilosonthara B. memiliki biomassa dan
simpanan karbon yang paling tinggi, sedangkan jenis tanaman yang memiliki
biomassa dan simpanan karbon yang paling rendah adalah jenis Litsea alboyana Vid. Hal ini disebabkan karena
jumlah individu, diameter batang dan berat jenis yang berbeda dengan jenis yang
lain.
Berdasarkan data pengukuran maka estimasi biomassa dan
simpanan karbon pada lokasi penelitian diperoleh dari hasil penjumlahan
biomassa tingkat pohon, pohon tidak bercabang, tumbuhan bawah, serasah, dan
nekromassa
Berdasarkan hasil analisis, tingkat pohon memiliki
biomassa rata-rata sebesar 687,12 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar 316,08 ton/ha, pohon
tidak bercabang memiliki biomassa
rata-rata 15,03 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar 6,91 ton/ha, tumbuhan bawah memiliki biomassa rata-rata
2,01 ton/ha
dengan jumlah
simpanan karbon sebesar 0,93 ton/ha,
serasah memiliki biomassa rata-rata sebesar 7,62 ton/ha dengan jumlah simpanan karbon sebesar
3,5 ton/ha, dan nekromassa memiliki biomassa rata-rata sebesar 0,84
ton/ha
dengan jumlah
simpanan karbon sebesar 0,22 ton/ha.
Berdasarkan hasil analisis diketahui estimasi jumlah
karbon tersimpan di atas permukaan tanah pada Zona Pemanfaatan SMTP sebesar 327,64 ton/ha, dari nilai tersebut diketahui simpanan karbon
seluruh areal zona pemanfaataan SMTP seluas 1.006 ha yaitu sebesar 329.605,84
ton.
Hasi pengukuran menujukkan jumlah biomassa tumbuhan bawah
yang lebih rendah dibandingkan dengan jumlah biomassa serasah disebabkan karena
kondisi lahan pada lokasi penelitian yang merupakan kawasan konservasi dengan
berbagai jenis pohon yang besar dan penutupan tajuk yang rindang sehingga
tumbuhan bawah hampir tidak memperoleh atau terkena oleh sinar matahari untuk
pertumbuhannya. Jika dibandingkan dengan simpanan
karbon pada lahan non hutan
(kebun campuran) yang telah diteliti di Leuwiliang Jawa Barat, simpanan karbon
pada hutan alam SMTP memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu sebesar 327,64 ton/ha sedangkan pada kebun campuran tersebut sebesar 20,33 ton/ha(Yuli, 2003). Hal ini sesuai dengan tulisan Adiriano,
2009 yang mengatakan bahwa hutan merupakan penyerap karbon terbesar dan memainkan
peranan yang penting dalam siklus karbon global dan dapat menyimpan karbon
sekurang-kurangnya 10 kali lebih besar dibandingkan dengan tipe vegetasi lain
seperti padang rumput, tanaman semusim dan tundra (Adiriano, 2009 dalam Aditiyas, 2015).
Selain itu pada hutan alam misalnya Taman Hutan Raya (Tahura) Nipa-Nipa
yang telah dilakukan penelitian terhadap jumlah karbon tersimpan maka diketahui hutan konservasi SMTP
memiliki jumlah karbon tersimpan yang lebih tinggi, dimana estimasi
total potensi
cadangan karbon di atas
permukaan tanah pada Hutan Alam Tahura Nipa-Nipa sebesar 202,64 ton/ha (Aditiyas, 2015), sedangkan pada hutan alam SMTP mencapai
327,64
ton/ha.
Berbagai faktor ikut mempengaruhi
sehingga menimbulkan perbedaan tersebut misalnya besar diameter batang maupun berat jenis untuk setiap jenis
tanaman, secara umum diameter batang pada SMTP lebih besar dibanding Tahura
Nipa-nipa. Sebagaimana diketahui bahwa diameter batang dan berat jenis berbanding lurus dengan simpanan karbon pada
suatu pohon, artinya bahwa semakin besar diameter dan berat jenis maka semakin
tinggi pula simpanan karbon suatu pohon.
Selain
ukuran diameter dan berat jenis, kondisi tanah juga secara tidak langsung
mempengaruhi jumlah simpanan karbon pada suatu lahan. Penyimpanan karbon suatu lahan
menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya baik, atau dengan kata lain
jumlah karbon tersimpan
di atas tanah (biomasa tanaman) ditentukan oleh besarnya jumlah karbon tersimpan di dalam tanah (bahan organik tanah). Bahan orgnik tanah itu sendiri terbentuk dari pelapukan nekromassa yang
ada di lantai hutan.
Selain kondisi
tanah, kondisi pohon dan
tumbuhan yang terdapat di hutan Konservasi SMTP
memberikan pengaruh terhadap jumlah simpanan karbon. Pada umumnya
tegakan yang terdapat di SMTP merupakan
tegakan tua dengan diameter yang besar dan memiliki tajuk yang lebar dengan pengertian bahwa tanaman atau pohon berumur
panjang yang tumbuh di hutan alam SMTP merupakan
tempat penimbunan atau penyimpanan karbon yang jauh
lebih besar dari pada Tahura Nipa-nipa. Oleh
karena itu, hutan alami dengan keragaman jenis pepohonan berumur panjang dan
seresah yang banyak merupakan gudang penyimpan karbon tertinggi (baik di atas maupun di dalam tanah).
Status kawasan SMTP yang
termasuk dalam kawasan konservasi juga memberikan pengaruh terhadap jumlah
karbon tersimpan. Hal ini karena kawasan konservasi memiliki sistem penjagaan
yang lebih ketat jika dibandingkan dengan hutan alam yang lainnya sehingga
akses masyarakat dianggap cukup rendah bahkan hampir tidak ada dalam hal
pemanfaatan hasil hutan kayu (pohon) yang kita ketahui merupakan komponen
penyimpanan karbon terbesar di atas permukaan tanah.
VI.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Simpanan karbon di atas permukaan tanah pada Zona Pemanfaatan Kawasan Konservasi SMTP dengan luas 1.006 ha yaitu simpanan karbon tingkatan pohon sebesar 317.976,48
ton, pohon tidak bercabang sebesar 6.951,46 ton,
tumbuhan bawah sebesar 935,58 ton, serasah sebesar 3.521 ton,
dan nekromassa sebesar 221,32 ton.
Secara keseluruhan estimasi total jumlah karbon tersimpan di atas permukaan
tanah pada Zona Pemanfaatan SMTP sebesar 329.605,84 ton, sehingga diperoleh rata-rata karbon tersimpan
sebesar 327,64 ton/ha.
6.2. Saran
Perlu
dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jumlah kandungan karbon
yang terdapat di atas permukaan tanah pada
masing-masing zona di Kawasan Konservasi SMTP sehingga dapat diperoleh data
estimasi simpanan karbon untuk keseluruhan Kawasan Konservasi SMTP.
DAFTAR PUSTAKA
Adinugroho. W.C.,
Syahbani. I., Rengku. M.T., Arifin. Z., Mukhaidil. 2009. Pendugaan Cadangan Karbon (C-stock) dalam
Rangka Pemanfaatan Fungsi Hutan Sebagai Penyerap Karbon. http://www.Sith.itb.ac.id/profile/databuendah/publications/12%20yayaMAPinsurabaya.pdf.
Aditiyas. E.S. 2015. Estimasi Potensi Cadangan Karbon Di Atas
Permukaan Tanah Pada Hutan
Alam Tahura Nipa-Nipa. UHO. Kendari.
BKSDA Sultra, 2009. Suaka Margasatwa Tanjung Peropa Melindungi Kantung-Kantung Air Hingga Masa Mendatang. WWF. Indonesia.
Dephut.
2007. Penyuluhan
Kehutanan dan Kebun. Departemen Kehutanan, Bina Penyuluhan Kehutanan dan Kebun. Jakarta.
Guntoro. H.
2008. Laporan
Presentasi Kelompok Biomassa http://helmiguntoro.blogspot.com. [7 Nopember 2014].
Hadi. M.
2007. Pendugaan Simpanan Karbon
di Atas Permukaan
Lahan pada Tegakan Jati (Textona
grandis) di KPH Blitar, Perhutani Unit II Jawa Timur. Departemen Manajemen
Hutan Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hairiah. K., 2007. Petunjuk
Praktis Pengukuran Karbon Tersimpan Di Berbagai Macam Penggunaan Lahan.
Word Agroforestry center. Bogor.
Hairiah.
K., Ekadinata.
A., Sari. R.R.,
Rahayu. S. 2011. Petunjuk praktis Pengukuran Cadangan Karbon dari Tingkat Lahan ke Bentang Lahan Edisi Kedua.
Universitas Brawijaya (UB).
Malang. Indonesia.
Kemenhut. 2007. Pedoman
Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) pada Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan pada Hutan Produksi. Permenhut 2007.
Kurniawan. 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon tersimpan
di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. World Agroforestry Center. Bogor.
Kurniawan. 2007. Global Warming Perspective
Politics and Policy.
Diskusi Publik Hizbut Tahrir Kota Depok.
Kusmana. C. 1997. Metode Survey
Vegetasi. Institut Pertanian. Bogor.
Linggi S, 2014. Potensi Simpanan Karbon Berdasarkan Ketinggian Tempat Tumbuh yang Berbeda pada Pola Agroforestry di Kecamatan Saadan Kabupaten Toraja Utara. Unhas. Makassar.
Marispatin.
N., Ginoga. K., Pari. G., Dharmawan. W.S., Siregar. C.A., Wibowo.
A., Puspasari. D., Utomo. A.S.,
Sakuntaladewi. N., Lugina. M.,
Indartik., Wulandari. W., Darmawan. S., Heryansah. I., Heriyanto. N.M.,
Siringoringo. H.H., Damayanti. R.,
Anggraeni. D., Krisnawati. H., Maryani. R., Apriyanto. D., Subekti. B. 2010. Cadangan karbon pada berbagai tipe hutan dan
jenis tanaman di indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Bogor.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 150 Tahun 2000
tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa.
Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 46 Tahun 2008.
Soerianegara. I., Indrawan. A. 1978. Ekologi
Hutan Indonesia. Departemen Management Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Soerianegara. I., Indrawan. A. 2002. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Susandi. A.
2008. Dampak Perubahan Iklim terhadap
Ketinggian Muka Laut
di Wilayah Banjarmasin. Jurnal Ekonomi Lingkungan Vol. 12/No. 2.
Sutrisno. F.
2010. Aplikasi Penggunaan Satelit
Penginderaan Jauh di Indonesia pada Pengendalian
Masalah Lingkungan. http://fadlysutrisno.wordpress.com/2010/07/15/Aplikasi
penggunaan-satelit-penginderaan-jauh-di-Indonesia-
pada-pengendalian-masalah-lingkungan.
Undang-undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.
Wahyu. 2010. Jasa Hutan Sebagai Penyerap Karbon. http://www.facebook.com. [7 Nopember
2014].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar